Sudah tak terhitung lagi berapa kali kusaksikan adegan semacam ini. Entah diulang atau terulang lagi... lagi... dan lagi. Mentari senja yang meredup telah berkali-kali pula menjadi saksi bisu. Dar kulihat menyeringai sehingga menampakkan gigi-gigi yang beberapa telah tanggal. Kuberani bertaruh, itu bukan ekspresi kebahagiaan atau ekspresi yang berkonotasi dengan kesenangan.
Dar menyeringai menahan sakit.
Terbuat dari apa sih otak dan hati Sugi itu. Tak ada sedikitpun rasa iba pada istrinya yang sedang mengandung jabang bayinya.
Ya ampun.
Sesekali kudengar terlontar kata itu dari mulut orang-orang yang menyaksikan adegan mereka itu. Kadang kulirik mereka-mereka itu dan kulihat kedua bola mata mereka mendelik. Entah tertegun... atau terpesona.
Mungkin terpesona akan mahluk ciptaan-Nya yang satu ini. Terpesona akan ketegaan hatinya. Dan terpesona akan kepasrahan Dar menahan dera di sekujur tubuhnya.
Tiga bocah kecil dan kumal mengiring Sugi dan Dar. Kalau ditaksir umurnya 3 tahun, 4 tahun dan satu lagi 6 tahun. Walah… kuhanya bisa ‘gedhek’ kepala. Akan tambah satu lagi kalau jabang bayi di perut Dar nanti sudah keluar.
Aduuuuhhhh... ...
Biyuuung...
Kembali lagi kudengar Dar terpekik menahan sakitnya.
Sugi sepertinya sudah tuli sehingga tidak lagi memperdulikan jeritan Dar. Tetap saja diseretnya tubuh Dar meskipun malah membuat langkahnya tersendat-sendat.
Ketiga bocah kecil yang sedari tadi mengikuti mereka tetap berjalan beriringan di belakang sambil menikmati es lilin dalam genggamannya masing-masing. Seolah-olah pemandangan di depan mata mereka itu adalah bagian rutinitas kehidupan yang tak perlu lagi mendapat perhatian serius. Yah... tepat kalau disebut rutinitas karena hampir setiap hari kejadian itu berlangsung.
Sesekali Sugi menginjak keras kaki-kaki Dar kalau Dar agak menurunkan kecepatan jalannya. Sambil bergumam tidak jelas dan matanya mendelik. Sebuah keluarga yang menakjubkan… pikirku.
Sugi memang terlalu. Entah apa yang akan dialaminya besok, kudengar ibuku bergumam lirih.
Tidak setiap hari aku menghabiskan waktu seharian di kios es ibuku ini. Tapi sepanjang hari ibuku menghabiskan waktunya di sini. Pastilah pemandangan barusan ini sudah menjadi santapan sehari-hari baginya.
Mbak, jangan mau toh kalau diseret-seret begitu. Pernah sesekali ibuku memberi saran saat Dar jajan es untuk anak-anaknya di kios ibuku.
Sudah biasa kok Bu, itu saja jawaban singkat Dar.
Kasihan lho anak-anak, masa sih tiap hari harus melihatnya.
Lama-lama mereka jadi terbiasa Bu.
Tragis memang, akhirnya bocah-bocah kecil yang belum tau apa-apa itu harus menyantap perlakukan kejam ayahnya terhadap ibunya.
Tiga tahun telah berlalu. Ibuku tidak lagi berjualan es di pinggir jalan besar itu lagi. Bapak dapat sedikit rejeki jadi bisa buka warung nasi kecil-kecilan di rumah.
Yah... kurasa itu lebih baguslah dari pada ibu harus sepanjang hari berpanasan dan kulitnya menampung debu dan asap kotor jalanan. Warung kecil di dalam kampung. Tentu saja langganannya ya tetangga kanan kiri dan beberapa anak kuliahan Sekolah tinggi dan akademi di dekat tempat tinggal kami.
Siang ini kuliahku kosong. Gak ada minat ke kampus atau ke kontrakan teman. Hari ini aku ingin di rumah saja. Dari dalam rumah dapat dengan jelas kulihat langganan ibuku yang ingin membeli makan.
Ada satu sosok pembeli yang menarik perhatianku. Bertubuh tambun dan berkulit gelap. Rambut panjang diikat memakai celana jeans panjang, kaos oblong berjaket dan membawa tas punggung.
Sepertinya pernah kukenal sosok itu. Karena penasaran, aku mendekat ke jendela yang berbatasan langsung dengan tempat jualan ibuku. Sekarang kulihat dengan jelas wajahnya. Yah... ternyata benar. Aku mengenal sosok itu. Luka panjang bekas sayatan cutter di pipi kirinya menjadi ciri khasnya.
Sekitar 3 tahun yang lalu sering kulihat dia. Kulihat sering berjalan di sepanjang jalan sekitar kios es ibuku dulu dengan 3 bocah kumal.
Dar... itu si Dar.
Dari balik jendela ini bisa dengan jelas kudengarkan apa yang sedang dibicarakannya dengan ibuku. Sepertinya ibuku juga sempat terkejut melihat penampilannya yang lebih rapi dan bersih dari yang dulu.
Wah Mbak, sudah senang ya sekarang. Makin gemuk dan makmur saja nih,” kudengar ibuku bicara padanya.
Ya lumayan Bu. Sekarang saya lebih tenang dari dulu, ndak punya beban lagi. Cari makan untuk hidup sendiri.
Lho kok sendiri gimana. Anak-anaknya dimana Mbak?
Anak apa Bu, saya ndak punya anak.
Nggak punya gimana Mbak ini. Dulu terakhir saya lihat malah mau nambah satu lagi kok.
Itu kan dulu Bu, sekarang saya sudah hidup sendiri. Anak-anak yang dulu sudah diambil Bapaknya semua.
Oh pantes kalau gitu. Bapaknya tinggal dimana sekarang?
Ya masih di tempat dulu. Tidur di depan garasi biara itu.
Sama anak-anak?
Ya tidak Bu. Anak-anak sudah dijual semua sama bapaknya.
Kulihat raut muka ibuku berubah kaget. Aku pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetku. Kalau aku di depan bergabung dengan mereka, pastilah langsung kelihatan perubahan ekspresiku.
Sugi kalah terus mainnya. Becak sudah dijual dari dulu-dulu. Punyanya kan anak, ya anak-anak dipakai buat bayar utang main bapaknya, lanjut Dar.
Kata-katanya datar. Tidak ada gambaran sedih atau ekspresi lain. Seorang ibu bisa bercerita tentang hilangnya anak²nya dengan begitu datar. Apakah mungkin Dar sudah terlalu lelah bersedih dan benar-benar pasrah dengan hidupnya. Pikiran² itu berputar di kepalaku.
Mbak sekarang kerja dimana? kembali ibuku bertanya.
Itu Bu, di terminal. Jalur Jogja-Solo.
Oh di travel ya. Syukurlah kalau udah dapat pegangan yang lebih mapan.
Bukan travel kok. Itu lho yang sama sopir dan kernet.
Kok sopir dan kernet, memangnya kerja apa Mbak.
Ya sama mereka itu Bu.
Lho, apa harus sama mereka Mbak?
Iya Bu, harus sama siapa lagi. Saya kenalnya ya Cuma sopir dan kernet saja.
Selain mereka apa memang beneran nggak ada Mbak?
Mana laku saya ini Bu, lakunya ya cuma sama mereka itu
Mmmm... Mbak ini kok cari kerjaan begitu to.
Orang seperti saya ini mau kerja apa lagi yang bisa. Ya Cuma itu bisanya.
Trus pakai pengaman apa nggak?
He-he-he pastilah jalan pikiran ibuku sama denganku. Karena kupikir dia jadi wanita tuna susila.
Lah pakai pengaman buat apa?
Nanti kalau hamil gimana coba?
Waaahh... Saya ini bukan ‘lonthe’ Bu,” suara Dar agak memekik.
Ibuku tertegun. Mungkin dia langsung merasa tidak enak sudah berprasangka buruk dulu terhadap Dar. Bagaimana tidak, wanita gelandangan yang sudah berpisah dari suami dan anak-anaknya lalu kemudian kerja di terminal bersama sopir dan kernet. Aku pun sempat berpikir begitu.
Saya ini copet Bu. Dar sedikit berbisik bicaranya.
Mbak... kalau ketangkap piye... kalimat ibuku terlontar dengan ekspresi kaget.
Paling dijambaki dan ditapuki. Sudah biasa itu Bu.
-ditapuki = ditampar-
Dar kemudian berpamitan mau berangkat ke terminal lagi. Jam 3 nanti ada bis yang berangkat ke Solo katanya. Ibuku pun masuk ke dalam rumah dan mendapatiku yang sedang duduk merapat di jendela.
Sugi sudah melatih Dar dengan keras.
Kata ibuku sambil menepuk pundakku dan kemudian berjalan masuk ke dapur.