Thursday, October 07, 2004

EdelwisE

BAGIAN II

Pak A Seng terlihat agak kaget karena keberadaan Nawan di situ. Mungkin dia tidak menyangka ada orang lain di situ. Berdiri dan berjalan mendekatinya lalu menepuk pundaknya.

Nanti berangkat jam berapa?

Setelah ini saya akan langsung berangkat Pak. Terima kasih semuanya.

Pak A Seng tersenyum dan mengajaknya untuk sarapan pagi terlebih dahulu dengan kue² yang telah dibelinya pagi² tadi di pasar. Bapak satu ini benar² rajin, tidurnya belakangan tetapi bangunnya paling pagi.

Jangan sungkan kalau ingin datang kemari.

Iya Pak.

Untuk bisa sampai ke komplek Supadio, harus ditempuh dengan 3 kali berganti angkot. Jam 10:00 Nawan sudah tiba di komplek Lapangan Udara Supadio. Setelah bertanya kepada Provost yang berjaga di pos penjagaan, dia melanjutkan perjalanan ke arah komplek perumahan TNI AU dekat situ.

Bandara Supdio tidak terlalu ramai. Lebih sering terlihat orang-orang berseragam biru-biru lalu-lalang.

Tidak memerlukan waktu yang lama, Nawan sudah berhasil menemukan tempat tinggal kakaknya yang ditugaskan di Pontianak. Dan sejak saat itu dia menumpang hidup di tempat keluarga kakaknya. Selama itu Nawan selalu berganti-ganti pekerjaan dari tukang potong kayu di pabrik gelongongan kayu, sopir di pabrik kayu lapis, pekerja di perkebunan sawit bahkan menjadi tukang ojek.





Meskipun mendapatkan tiket kelas ekonomi yang non shit tetapi ternyata masih ada juga tempat-tempat kosong di dek 2. Entah siapa yang menuntun tetapi kebetulan lagi si bapak bertubuh tambun di ruang tunggu pelabuhan tadi sudah berada di dek itu. Setelah sedikit berbasa-basi dan meletakkan ransel, akhirnya punggung bisa direbahkan dengan santai.

Entah sudah berapa lama KM Leuser meninggalkan pelabuhan Pontianak. Perjalanan kadangkala diselinggi goyangan seperti ayunan saja yang menandakan ada ombak besar di lautan penghubung antara P. Kalimantan dengan P. Jawa.

Hmm... Jawa... sudah 3 tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sana.

Alam pikiran otomatis langsung terbayang pada orang-orang yang tak ditemuinya selama 3 tahun belakangan ini. Teman-teman kuliahnya dulu, teman-teman kostnya dulu, teman-teman gilanya dulu... dan sosok yang pernah disayanginya dulu. Dimana dia sekarang?. Masihkah ingat padanya? Apa yang akan terjadi saat mereka kembali bertatapan?

Hmm... berbaris-baris pertanyaan lain melintas dalam kepala. 32 jam lagi... segala pertanyaan itu akan mendapatkan jawabannya.

Dik... bangun!!! Ayo ambil sarapan dulu.

Goncangan ringan dari bapak tambun cukup mengagetkan dan tersadar kalau matahari sudah tinggi. Sesaat kesadaran belum benar-benar muncul karena 6 nyawa masih berkeliaran di luar. Setelah berganti ke posisi duduk beberapa saat dan berkumpulah ketujuh nyawa, diambilnya sikat gigi dan mengoleskan dengan pasta gigi secukupnya dan mulai ikut antri di kamar mandi yang ada di ujung lorong dek. Selesai menggosok gigi dan cuci muka, kaki melangkah ke dek 3 untuk mengambil jatah makan pagi.

Yah... ikan lagi lauknya. Kata buku dan para pakar kesehatan, ikan laut memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Tetapi peduli amat dengan semua itu, yang penting cacing dalam perut tidak berontak terus. Itu sudah cukup...

Tiga puluh dua jam di atas kapal terasa lebih lama lagi karena dihitung tiap menitnya. Tak sabar rasanya untuk melihat tempat yang sangat dirindukan. Dahulu tidak pernah sadar kalau akan begini rasanya... kerinduan yang muncul begitu pertemuan tinggal sesaat lagi.

Semilir angin lautan menerpa wajah dan mengibarkan sisa ikatan bandana di kepala. Menatap lautan luas yang belum terlihat ujungnya dan sesekali terlihat pulau-pulau kecil di kejauhan dan lumba-lumba memamerkan loncatan-loncatannya.
Hmmm... di lautan sudah beberapa kali terlihat lumba-lumba itu melompat, sepertinya sudah memasuki ke Laut Jawa.