Friday, July 30, 2004

BAYANGAN TAK KAN DAPAT DIGENGGAM

(Part 3)

Dorrrr...
Siang-siang kok ngalamun.

Sedikit tersentak. Dengan kedua ujung bibir sedikit terangkat ke atas beberapa mili dan menunjukkan sebagian barisan gigi yang sudah tercemar warna kecoklatan karena ganasnya serangan nikotin dari kretek yang biasa dihisapnya, Nawan duduk bersandar tembok kamar sebelah tempat tidurnya. Kingkit pun lalu duduk di sebelahnya setelah puas mendapatkan gelombang Swaragama yang sebelumnya diutak-atiknya tidak pas-pas juga.

Udah sembuh sakitnya Mas?

Masih Kit, malah tambah sakit.

Periksa aja lah. Mumpung masih sore lho. Jadi antrinya gak terlalu panjang. Kuantar yuk?!

Gak usah, pusingku ini cuma karena takut saja.

Takut apa?

Sesaat suasanya menjadi hening dan hanya terdengar syair Eternal Flame yang terlantun keluar dari radio di hadapan mereka. Suara yang menghanyutkan seakan-akan menghipnotis mereka berdua sehingga tercipta keheningan yang panjang.

Takut.
Takut membuat kamu sakit.

Maksud Mas??? Kingkit benar-benar bingung dan dengan mimik muka innocent-nya menatap Nawan.

Hmm...

--Terdiam lagi agak lama-- Aku kadang masih sms-an sama Amitha.

Maaf Kit...

Nawan memberanikan diri menatap mata bulat Kingkit lalu wajahnya lunglai dan tertunduk pasrah. Seolah-olah langit seisinya akan jatuh menimpanya
--wah sepertinya terlalu hiperbol yah... hehehe…--

Ohh...

Hanya desahan kecil yang bisa keluar tanpa disusul rangkaian kata yang lain karena memang Kingkit sudah bisa mengetahui apa yang terjadi tanpa menunggu Nawan melanjutkan ceritanya.

Jadi... maunya Mas sekarang gimana?

Mauku cuma satu...
Nawan mulai berani mendongakkan wajahnya dengan perlahan dan menatap sayu ke kedua bola mata Kingkit.

Jangan sampai kamu semakin sakit Kit.

Seakan-akan tulang leher tidak sanggup menopang kepala Nawan lagi dan kembali lagi terkulai lemas kehilangan daya.

Sayangnya...
Aku sudah terlanjur sakit Mas.

Aku tahu itu Sayang.

Suasana kembali tenang... diam... sunyi....
Tanpa ada suara selain penyiar radio yang masih cuap-cuap dan sesekali meladeni telepon masuk. Tanpa ada gerakan sedikitpun… dan tidak saling bertatapan lagi. Mereka berdua hanya terdiam seperti patung dalam posisi duduknya masing-masing.

Mas, aku pulang dulu yah. Sudah hampir gelap.

Suara pelan Kingkit memecah kesunyian dan kemudian bergegas mengambil tas yang tadi dilemparkannya ke kasur.

Iya.
Hati-hati di jalan ya Kit.



.


(Part 4 - The End)

Dinginnya malam Jogja tidak hanya dirasakan di atas saja
--'atas' itu adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut daerah dari jalan kaliurang terus ke utara sampai lokasi wisata Kaliurang--

Tetapi Jogja bagian tengah juga merasa dingin yang serupa.
Udara tetap terasa dingin meskipun sudah duduk berdesak-desakan di dalam kamar Uli yang luasnya hanya 3x4 meter itu.
Player sudah memutar CD sampai ke kepingan kedua, tetapi cerita The Cores itu belum juga ditangkap isinya.

Gantiii aja deh Miiiin
Gak dooong dari tadi!!!
Suara melengking dan manja Ujuk terdengar memprotes tontonan di depan mereka itu.

Film ini memang untuk orang cerdas saja, orang tulalit macam kalian mana bisa nangkap isinya, sela Hermin.

Beh... cam betol aja pon.
Klean tu’ berisik semua dari tadi, jadi tak jelas isinya. Coba klean lihat si Kingkit, tak ada gangguan sikit pun dari dia.
Bi quaaiitttt!!!
Mantap sekali kata-kata yang keluar dari mulut May.

Huuuu...
Serempak mereka protes.

Kamunya aja juga berisik Mbakyuuu.

Belagu kamu May.

Beh... masih saja ko protes kata² awak.

Sudah lah, kalau mo diganti ya ganti aja. Gitu aja ribut.

Dah ganti gih sonooo...
Uli sambil melempar bantalnya ke arah Hermin sehingga membuat dia tersentak kaget dan terpaksa membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot ke bawah dengan ujung jari telunjuk kanannya.

Li, gwe balik ke kamar dulu yah.
Everi badi... gwe masuk dulu ya. Ngantuk nih.

Yaaaahhh Kit
--sepertinya ada nada kecewa dari kata itu--

Tidur aja sini sekalian, ntar kita-kita ini mo ngacak-acak kamar Uli.

Ikutan aja lah.

Hehehe... tuw lihat muka Uli dah kusut.
Awas kalau besok dia balas dendam trus masukin bom molotop di kamar-kamar kalian, baru tau rasa.

Dah ah... ngamar dulu ya semua...

Kingkit berjalan keluar kamar Uli tanpa mempedulikan suara teman-temannya yang bersaut-sautan mencoba menggoyahkan keinginannya untuk kembali ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi di belakang.

Setelah keluar dari kamar mandi dan mematikan lampu-lampu kecil sekitar dapur dan kamar mandi dia pun melangkah menuju kamarnya.

Ehm...
Duh seriusnya euy.

Tiba-tiba saja wajah Uli sudah muncul di atas rak kecil di samping CPUnya. Ternyata tadi Kingkit lupa menutup pintu kamarnya sehingga tidak menyadari kalau Uli sudah masuk ke dalam kamarnya.

Katanya ngantuk, kok komputer masih nyala?

Tanggung nih Li, tinggal dikit lagi.
Eh... kamar kok ditinggal sih, ancur beneran lho ntar.

Biar deh, sekali-sekali biar mereka puas ngacak-acaknya. Lagian besok aku emang ada rencana mo renovasi dan merubah lay out nya lagi kok.

Celoteh Uli sambil mengaduk Mug berisi air panas dan coffeemix yang ditambahin sedikit gula pasir karena dia tidak pernah merasa pas kalau minuman instannya tidak ditambah gula pasir 1 sendok teh lagi.

Oww...
Suasana menjadi hening sesaat.

Slluurrppp...
Mencoba rasa manis kopinya sudah pas atau belum.
Hmm...
Desahnya sebagai tanda sepertinya sudah merasa puas dengan manis coffemix-nya karena terlihat ada senyum kecil muncul dari bibir Uli.

Jadi beneran nih kamu mau ngelaju? Tinggal dikit kan Non, selesain aja sekalian di sini, kan tanggung.
--ngelaju = istilah pulang–pergi langsung dari rumah, biasanya untuk penjalanan jarak yang agak jauh (luar kota)--

Gimana ya, udah gak ada lagi alasan untuk tetap disini. Lagian duitnya bisa dialokasikan untuk yg lain misalnya buat ngopy draft. Lagian tinggal olah data aja kok. Nggak sibuk cari-cari data lagi.

Yahh...
Sepi dong ntar kalau kamu beneran pergi Kit.

Gak lah, mereka yang di kamarmu itu yang jadi tukang bikin ributnya. Kalau aku kan anak cool, calm meski kadang masih kurang confidence...
Tapi tetap tenang hehehehe... kalau tidur cihh.

Huuu... ngorok gitu aja ngaku pendiam, apanya yang tenang...
Sambil mencubit pinggang Kingkit yang memang saraf-sarafnya lumayan peka dibandingkan bagian tubuh lainnya.

Aww...
Yang penting aku kan gak dengar suara ngorokku.

Loe nggak denger... tetangga tuh yang pada tutup kuping.

Hehehe... kan bisa jadi irama pengantar tidur kalian.

Dasart loe, ya udah terusin gih, aku mo ngawasin trio kwek kwek itu. Bisa-bisa Bu Marbun manggil polisi lagi.

Bu Marbun memang tetangga tersewot di situ. Anak-anak muda yang sedang ronda di pos ronda di depan rumahnya pernah suatu malam meronda sambil bermain gitar. Karena merasa terganggu maka dengan respon proaktif (beliau sendiri yang menyatakan memiliki respon proaktif ini) yang selalu dibangga-banggakannya, Bu Marbun memanggil polisi dan melaporkan anak-anak muda itu dengan laporan mengganggu ketenangan umum. Kontan saja polisi yang datang malam itu hanya bisa cengar-cengir setelah tiba dan melihat TKP.

Waktu terus saja berjalan sampai tak terasa jarum pendek jam dinding telah melewati angka 1 lagi. Ternyata sudah berganti hari. Layar komputer belum dimatikan juga.

Hmm... akhirnya selesai juga.
Semua sudah selesai di save.
Close saja ah.

Setelah saving dan closing semua program yang tadi dibuka, dengan gerakan refleks namun santai, tangan telah menggerakkan dan mengarahkan cursor mouse ke sebuah icon di desktop. Icon kecil bergambar snoppy biru dengan susunan huruf membentuk kata

D-H-I-A.

Hmm... Dhia. Sudah hampir 4 bulan tidak pernah kukunjungi lagi.
Tanggal terakhir jatuh di bulan Maret 2003. Bulan menyakitkan dan penegas bagi hubunganku dengan Putra. Dia masih saja mencintai kekasih lamanya.
Sakit... sangat sakit.
Saat dia begitu dekat denganku, kulit kami saling bersentuhan, nafas kami seolah-olah menyatu dan tatapan mata terasa sangat begitu dekat. Ternyata hanyalah sebuah ilusi bak fatamorgana yang menipu pandangan di bawah terik sang surya.
Dia tidak benar-benar ada, jiwanya menghilang, pikirannya menghilang, dan hatinya pun ikut serta menghilang.

Saat itu kubodohi diriku sendiri, dengan berpura-pura dia ada. Berbuat dan berpikir seolah-olah dia nyata dan hadir untukku.
Namun akhirnya... sakit.
Hanya sakit yang terasa, karena dia bukan untukku meskipun tak mungkin juga dia bisa hadir untuknya. Kami semua merasakan sakit yang sama karena kehilangan. Sakit dalam mimpi buruk tetapi tetap tak mau segera terjaga dari mimpi buruk itu.

Hmmm...
Ingin menyapa Dhia lagi.

Dearest Dhia,

AB 08072003, tengah malam dingin di tengah kota Jogja.

Empat bulan setelah kurasakan sakit yang memilukan itu, seolah-olah waktu kembali berputar ke belakang. Sepertinya portal pintu waktu kembali dibukakan untukku. Kupikir aku bisa kembali dan menambal kebocoran akibat lubang-lubang di masa lalu itu. Tetapi aku salah Dhia, aku tidak sanggup menutup lubang itu sendirian. Bahkan malah kubuat lubang yang lebih besar. Seluruh tubuh ini menjadi lemah dan semakin tak berdaya Dhia. Bukan hanya karena lubang ataupun paku-paku yang menancapinya, tetapi karena AKU...

Karena si A K U ini yang terlalu lemah untuk bangkit berdiri di atas kedua kaki sendiri. Melangkah di jalan yang benar. Justru lebih bodohnya lagi karena kulalui jalan yang sama yang pernah membuatku terperosok ke lubang yang sama.
Bayangan itu terasa sangat nyata... tapi sayang... bayangan itu tak kan pernah dapat digenggam. Hanya bisa dilihat dengan indera dan dirasakan dengan jiwa. Tak bisa juga diusir pergi.

Kisahku dan Putra seolah terulang kembali. Kenapa penulis naskah skenarionya tidak merubah alur ceritanya. Kenapa tidak membuat sekuelnya saja tetapi malahan memplagiat kisah itu. Kenapa harus sama seperti itu??? Apa tidak bosan dengan jalan cerita yang monoton tapi membuat pilu. Aku tidak tau Dhia, kapan portal lorong waktu akan menutup dan melemparku ke alam kosmik yang benar. Sehingga bisa kulanjutkan kembali langkahku ke depan.

Dhia... tahukah kamu kalau Tuhan benar-benar mengabulkan permohonanku. Saat aku minta keberanian, Dia memberiku kesempatan agar bisa kugunakan. Saat aku minta cinta dan kasih sayang, Dia memberiku orang-orang yang terluka hatinya supaya aku bisa berbagi kasih dan sayang dengannya.

Permohonanku dikabulkan.
Tapi Dhia... kenapa aku masih juga merasa sakit??? Aku ingin sembuh dari sakit ini tapi bagaimana caranya Dhia. Kamu tau jawabannya Dhia? Beritahu aku jawabannya Dhia, tolong beri aku jawaban!!!


.

Thursday, July 29, 2004

BAYANGAN TAK KAN DAPAT DIGENGGAM

(Part 2)

Nawan akhirnya selesai juga ngutak-atik pic Gay yang biarpun sudah ditambah warna, di-zoom, di potong sana-sini dan diputar-putar posisinya tetap saja kelihatan tampang kusutnya.

Dilihat dari mimik mukanya, Nawan tidak merasa cukup puas dengan hasil karyanya.

Kingkit kemudian ganti mengambil alih posisi.
Memasukkan disket ke drive A, run ke Microsoft Word dan membuka file ‘Pembahasan’.

Aku harus revisi lagi, pusing nih.
Reviiisiii terus... sampai mabok revisi aku.(Gumam Kingkit)

Nawan diam seolah-olah tidak peduli dengan gadis mungil di depannya itu.
Masih saja tanganya mengelus-elus si kucing lagi yang masih tiduran manis di sudut kasur nya.
Seolah-olah membawa alam pikirannya ke alam lain dimana di situ dia adalah seorang kesatria dengan jubah kebesarannya dan menenteng pedang besar di kiri pinggulnya.
Di depannya berdiri seorang putri cantik bergaun hijau dengan senyum manis tersungging di bibirnya yang mungil.

Didekatinya putri itu dan semakin dekat... semakin dekat... semakin lebih dekat lagi... dan...
Oh...
Sang putri itu malahan berlari makin menjauh sambil bergandengan tangan dengan seorang ksatria lain yang entah dari mana datangnya. Dari mana datangnya tak disadarinya karena terlalu terpana dengan sang putri.

Huh !!!
Sialan!!! Umpatnya tiba-tiba.

Kenapa Mas?
Kingkit tersentak dan melirik ke arahnya dengan wajah tetap menghadap layar komputer dan jari-jari lentiknya menari di atas key board yang huruf-hurufnya nampak sudah tinggal separo-separo.

Eh... nggak pa`pa.
Ini kucing gila, udah dielus-elus malah mo nggigit.

Dibilangin juga apa... kucing itu karnivora. Tetep aja bakal ngincer daging kalau ada daging. Kamu sih dibilangin malah ngeyel.
Komentar Kingkit ketus, karena memang pada dasarnya dia tidak terlalu menyukai binatang berbulu itu di dekatnya.

Wah, jangan salah Kit. Kalau dilatih terus, bisa jadi kaki tangan yang lebih bisa dipercaya dari manusia.

Up to you deh.
Kalau belum cuil dagingmu digigit, tetep aja kamu bakal bilang itu binatang manis, lembut, penurut dan tetek bengeknya.

Aduuuuuh....
Gimana nih Mas , belum sempat di save udah hang.
Uhhh... masa harus ngulang lagi.

Hhehehehe... sukurin.
Makanya kalau punya kerjaan itu dikerjakan dengan serius. Nggak usah ngurusin yang lain.

Dihh... kamu tuh yang berisik. Gangguin konsentrasiku aja.
Dah ah... diem dulu kamu.

Bukannya diam, Nawan malah dengan jailnya menggelitik perut dan rambut Kingkit. Sehingga tak ayal lagi tertundalah lagi revisi yang harus dibuat Kingkit.
Mereka berdua pun akhirnya asik bercanda di sore hari itu





Malam terasa semakin dingin saja. Angin terasa makin dalam menusuk kulit menembus jaringan-jaringan tubuh sampai terasa di organ-organ dalam.

Dingin... teramat dingin.
Masih saja putri bergaun biru itu selalu hadir dalam angannya.
Amitha... kenapa Amitha terus yang hadir di kepalanya.
Bukannya Kingkit.
Seharusnya Kingkit lah yang menjadi putri itu, bukan Amitha.
Ohh Amitha... tolong pergi jauh... sejauh mungkin sampai tak bisa kugapai lagi.

Tapi tidak!!!
Tidak!!!
Aku tidak sanggup kehilanganmu.
Amitha... kenapa harus kau katakan kalau kau belum bahagia dengan suamimu. Kenapa sayang? Tidakkah kau sadar cintaku belum hilang, cintaku belum pudar, cintaku belum sirna. Dan...kenapa kamu pun masih mencintaiku, itu salah besar sayang. Kita semua tau itu salah.

Sambil merebahkan diri terlentang di kasurnya yang selama ini selalu setia menampung tubuhnya. Nawan kembali membuka pesan masuk di ponselnya. Membaca kembali sms Amitha yang terakhir yang mengatakan malam itu dia menangis karena habis bertengkar dengan suaminya hanya karena suaminya cemburu padanya.

♫“Haruskah merasa salah di diriku, bila mencintaimu yang tlah berdua. Seolah aku perawan cinta yang haus kasih. ♪Kuhanya mencoba bermain api, tapi akhirnya sulit aku padamkan. ♫Hati kecilku… mengatakan ini harus diakhiri”♫

Rosa sialan, ngapain nyanyi di saat seperti ini.
Aku bukan perawan tau!!!
Aku ini pria sejati.

Dengan ujung jempol kaki kirinya Nawan mematikan radio yang kebetulan sekali sedang melantunkan tembang Perawan Cinta nya Rosa.
Nawan kembali menatap langit-langit di kamarnya.

Yah...
Benar...
Ini memang harus diakhiri. Harus!!! Harus!!!
Bukan Amitha, bukan dia... aku tak kan sanggup untuk tidak memikirkannya.
Kingkit... yah...
Kingkit yang harus diakhiri. Dia terlalu lugu untuk menjadi korban persembahan di altar pemujaan cintaku yang kelabu. Dia terlalu baik untuk menjadi budak pelampiasan asaku yang hampa.
Maafkan aku...
Aku sayang kamu tapi aku belum bisa mencintaimu.

(BERSAMBUNG)

BAYANGAN TAK KAN DAPAT DIGENGGAM

(Part 1)

Kisah lama terlalu sayang ‘tuk dibuang.
Meski trasa sakit dan menyiksa hati
Terlalu sayang,… dan terlalu indah ‘tuk ditanggalkan
Bak sebuah sugesti… seakan memenuhi kepala.
Menilai segala tanpa mampu menggunakan logika yang benar.

Meski tlah hadir kilau baru dan menusuk tepat di jantung sukma
Namun tetap tak mampu memendar indah ke seluruh jiwa.
Tak kan pernah kilau kan bersinar utuh,
Selama bayangan kelabu belum juga sirna.
Tak kan pernah bayangan kelabu lenyap,
Selama obyek tak jua bergeser dari koordinat awalnya.
(wiek’s Agst 2003)


Jarum merah spedometer sepeda motor menunjuk pada angka kecepatan yang stabil pada skala 40 km/jam. Yah... memang tidaklah terlalu kencang mengingat itu adalah perjalanan di tengah kota disaat waktu ‘lunch’ tepat bayangan berada di bawah telapak kaki.
Roda sepeda motor tetap berputar dan melaju pasti ke arah utara sambil sesekali meliuk-liuk ke kiri dan kanan mencari-cari sela jalan yang pas tuk bisa dilalui. Semua penghuni jalanan itu juga begitu. Semuanya kelihatan terburu-buru dan tak sabar untuk segera berhenti di tujuan.

Memang masih pantaslah kalau julukan lalu-lintas ter’semrawut’ disandang kota Yogyakarta yang katanya Berhati Nyaman ini.
Yah memang begitulah, kalau tidak cekatan di tengah lalu-lalang sepeda motor yang jumlahnya sudah melebihi ambang batas daya tampung kota Jogja, bisa-bisa malah sport jantung gara-gara suara klakson dan desitan roda-roda kendaraan yang saling terpancing untuk bereaksi dan semakin menambah kegaduhan jalanan saja.

Setelah 30 menitan meliuk-liuk di jalan itu, akhirnya sampai juga di ring road utara. Sambil menunggu lampu trafick light berubah ke warna hijau, pengamen-pengamen kecil tanpa alas kaki begitu telatennya menghampiri mobil-mobil yang terhenti karena lampu merah.
Terlihat beberapa mobil membuka kaca depannya dan muncullah tangan si pengemudi sambil memberikan logam seratus rupiah pada pengamen-pengamen kecil itu.

Terik matahari di luar menyerang dengan keganasan ultravioletnya tetapi keringat dari tubuh tidak bisa keluar juga. Sepertinya ini yang membuat kulit orang di Jogja tambah gosong saja. Panas yang aneh, seperti dipanggang tinggal ditambah sedikit campuran bumbu dapur plus monosodium glutamate untuk menyentuh rasanya… mantaplah sudah. Meski serangan panas aneh itu tak kunjung hilang tapi keringat di tubuh tetap saja tidak bisa keluar.

Lampu hijau sudah menyala. Roda kembali berputar melaju namun tidak secepat tadi. Hanya berkecepatan sekitar 15 km/jam. Tanda akan belok kanan sudah dinyalakan dari tadi, tetapi kendaraan di belakang sepertinya tidak ada yang berminat untuk sedikit mengurangi kecepatannya dan membuka sedikit peluang putaran roda itu untuk bergeser ke kanan.

Uuuhh...
Peluh mulai ada yang menetes.
Sampai juga di depan pamflet besar bertulis PPPG Matematika.

Roda dibelokkan haluan ke arah timur. Masuk terus... sampai pertigaan lalu belok kiri - teruuus - kiri lagi - terus... masuk gang kecil – belok kanan dikit sekitar 10 meter – kiri - dan sampai sudah.

Rumah yang catnya didominasi warna hijau itu seperti biasa, telah tegak berdiri kokoh dan seakan-akan telah siap dengan kedatangannya. Di bagian kiri bagunan ada tangga sempit menuju ke lantai 2. Lantai dimana Nawan memiliki teritorial penuh selama perjanjian lisan satu tahun atas sebuah kotak semen dan bata berukuran 3x3 meter.

Hmm... sepertinya sepi. Rumah besar tampak kosong. Mungkin bapak dan ibu sedang kondangan, bulan Juni sampai Juli kan memang bulannya orang kondangan. Nggak yang nikahan, sunatan, melahirkan, de el el deh. Pokoknya gajian satu bulan ditanggung bisa ludes buat modal ke kondangan.

Anak-anak yang lain juga tidak kelihatan satu pun nongkrong di pos ronda yang seolah sudah berubah fungsi menjadi mabes mereka.

Ah mereka itu. Paling kalau gak lagi molor di kamar masing-masing, yaaa ke rental PS nya Denmas Bei.

Pintu kamar Nawan tertutup tapi tidak dikunci dari luar. Pertanda penghuninya ada di dalam. Atau paling nggak ya tidak pergi jauh dari rumah.

Kingkit masuk tanpa mengetuk pintu dan...

Ternyata...
Tubuh tikus (tinggi dan kurus) itu sedang tiduran asik sambil ngelonin si kucing kesayangannya.

Kegiatan yang paling digemarinya kalau sedang nyantai di kamar.
Katanya sih lebih aman ngelus-elus dan ngeloni tubuh kucing itu dari pada ngelus-elusin orang lain karena bisa-bisa badan kita yang menjadi taruhannya.

Sesaat Nawan terkejut melihat wajah imut Kingkit muncul di sela daun pintunya yang telah terbuka separo. Tapi tetap saja dia tidak bangun dari peraduannya yang semakin menipis dan nyaris sejajar dengan lantai kamarnya. Kingkit berjalan masuk dan langsung melempar tas punggungnya ke kasur tipis itu dan bersandar di dinding di sebelah kasur.

Dari mana Kit?

Tempat Ona . Nggak ke Swakarya nih Mas?

Nanti sorean rencananya, sekarang masih panas. Motorku juga belum datang. Tadi Gay pinjem buat balikin printer di kantor.

Owww...
Jawab Kingkit singkat sambil diiringi gerakan anggukan kepala.
Udah makan Mas?

Udah. Kamu udah ‘pa blom?
Masih sambil ngelus-elus punggung kucing yang makin terlenan saja dibelai-belai. Bagai seorang putri hanyut dalam buaian sang pangeran pujaannya

Belum.
Tadi dari kampus langsung ke tempat Ona.
Kokom sudah datang trus aku kesini aja. Rencananya mo maem sama kamu, tapi kamunya dah maem dulu.
Wajah Kingkit cemberut kecewa namun bernada manja.

Ya udah, beli dulu aja di depan, ntar vertigo-nya kumat lagi.

Anterin ya Maass...

Hmmm... ya ayok, buruan.




Tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah kembali berada di dalam box bata dan semen berukuran 3x3 meter yang terlapis beraneka kolaborasi warna seperti di taman kanak-kanak saja.

Kingkit mencari posisi ternyaman untuk menikmati bungkusan dalam tas plastik hitam kecil yang ditentengnya. Nawan pun tak mau kalah dengan mencari posisi ternyamannya untuk segera menyalakan PCnya.
Sesekali Kingkit menggoyangkan kepalanya sambil menikmati nasi bungkus dari warung Tenda Biru dan mendengarkan House Music yang diputar dari Winamp PC di kamar Nawan.
Makan itu memang enaknya dengan lauk ‘lapar’. Makan apapun pasti terasa enak meskipun hanya dengan ikan asin sepotong kecil dan sambal.

Nawan masih saja asik mengklak-klik foto Gay. Gambarnya kadang jadi merah, kadang jingga, kadang juga kuning...
Bentuk oval, bintang... bintang... besar trus kecil gonta-ganti terus.
Entah mau diapain foto yang memang sudah tak beraturan dari sononya itu. Biarpun dimacem-macemin ya tetap saja foto Gay gak berubah. Paling pol... Gambar aslinya tersamar gradasi warna saja.

Tetep aja jelek Mas.
Bilangin saja sama yang punya, aslinya udah jelek gitu.
Kingkit nyeletuk sambil masih asik makan dan kedua tangannya memisahkan duri yang sepertinya sudah menyatu dengan ikan asinnya, karena saking banyaknya duri di dalam ikan.

Biarin aja, yang penting aku wes melaksanakan tugasku.
Ya itung-itung bantuin temen yang sedang berusaha untuk mensukseskan program asmaranya.

Memangnya kapan mereka mau ketemu?

Mbuh gak ruh... Nggak tau.
Katanya dalam minggu ini Sari mau ke Jogja. Mao ngelamar Gay katanya. Emansipasi ya Kit, cewe’ yang ngelamar cowo’.

Wah... kaya cerita India aja Mas.
Cewe’ nya yang ngelamar cowo’.

Eh Sari dan Mas Gay apa mau bener-bener serius ya?
gebetannya Mas Gay banyak kan.

Hu`uh... gitu sih katanya

Sari yang keberapa ya?!

Akehh Ndukk... banyak banget gebetannya Gay, kurang pantes kalau si Ramli jadi raja Chating... cocoknya si Gay itu raja Chatingnya.

Mas Gay udah dapat pic nya Sari?

Jelas sudah. Cuaakeep dan fungkehh katanya. Kaya Avril Lavigne yang lagi main skater itu tu. Tempo ari kan Sari kirim satu slot kretek dan foto aslinya ke Gay.

Jadi Mas Nawan sudah liat juga?

Sudah dong. Emang cakep kok, leader SPG tuh
.
Wow, pinter juga mas Gay cari gebetan.
Mojang Bandung euy. Pasti ya te o pe
---sambil ngacungin jempol tapi jempol tangan lho !!!---

Katanya sih bukan asli orang Sunda. Numpang kuliah aja di sana.

Oooo...

Gelasnya masih kotor Kit, langsung minum dari plastiknya aja ya. Udah agak dingin kan jeruknya.

(BERSAMBUNG!!!)