Kisah lama terlalu sayang ‘tuk dibuang.
Meski trasa sakit dan menyiksa hati
Terlalu sayang,… dan terlalu indah ‘tuk ditanggalkan
Bak sebuah sugesti… seakan memenuhi kepala.
Menilai segala tanpa mampu menggunakan logika yang benar.
Meski tlah hadir kilau baru dan menusuk tepat di jantung sukma
Namun tetap tak mampu memendar indah ke seluruh jiwa.
Tak kan pernah kilau kan bersinar utuh,
Selama bayangan kelabu belum juga sirna.
Tak kan pernah bayangan kelabu lenyap,
Selama obyek tak jua bergeser dari koordinat awalnya.
(wiek’s Agst 2003)
Jarum merah spedometer sepeda motor menunjuk pada angka kecepatan yang stabil pada skala 40 km/jam. Yah... memang tidaklah terlalu kencang mengingat itu adalah perjalanan di tengah kota disaat waktu ‘lunch’ tepat bayangan berada di bawah telapak kaki.
Roda sepeda motor tetap berputar dan melaju pasti ke arah utara sambil sesekali meliuk-liuk ke kiri dan kanan mencari-cari sela jalan yang pas tuk bisa dilalui. Semua penghuni jalanan itu juga begitu. Semuanya kelihatan terburu-buru dan tak sabar untuk segera berhenti di tujuan.
Memang masih pantaslah kalau julukan lalu-lintas ter’semrawut’ disandang kota Yogyakarta yang katanya Berhati Nyaman ini.
Yah memang begitulah, kalau tidak cekatan di tengah lalu-lalang sepeda motor yang jumlahnya sudah melebihi ambang batas daya tampung kota Jogja, bisa-bisa malah sport jantung gara-gara suara klakson dan desitan roda-roda kendaraan yang saling terpancing untuk bereaksi dan semakin menambah kegaduhan jalanan saja.
Setelah 30 menitan meliuk-liuk di jalan itu, akhirnya sampai juga di ring road utara. Sambil menunggu lampu trafick light berubah ke warna hijau, pengamen-pengamen kecil tanpa alas kaki begitu telatennya menghampiri mobil-mobil yang terhenti karena lampu merah.
Terlihat beberapa mobil membuka kaca depannya dan muncullah tangan si pengemudi sambil memberikan logam seratus rupiah pada pengamen-pengamen kecil itu.
Terik matahari di luar menyerang dengan keganasan ultravioletnya tetapi keringat dari tubuh tidak bisa keluar juga. Sepertinya ini yang membuat kulit orang di Jogja tambah gosong saja. Panas yang aneh, seperti dipanggang tinggal ditambah sedikit campuran bumbu dapur plus monosodium glutamate untuk menyentuh rasanya… mantaplah sudah. Meski serangan panas aneh itu tak kunjung hilang tapi keringat di tubuh tetap saja tidak bisa keluar.
Lampu hijau sudah menyala. Roda kembali berputar melaju namun tidak secepat tadi. Hanya berkecepatan sekitar 15 km/jam. Tanda akan belok kanan sudah dinyalakan dari tadi, tetapi kendaraan di belakang sepertinya tidak ada yang berminat untuk sedikit mengurangi kecepatannya dan membuka sedikit peluang putaran roda itu untuk bergeser ke kanan.
Uuuhh...
Peluh mulai ada yang menetes.
Sampai juga di depan pamflet besar bertulis PPPG Matematika.
Roda dibelokkan haluan ke arah timur. Masuk terus... sampai pertigaan lalu belok kiri - teruuus - kiri lagi - terus... masuk gang kecil – belok kanan dikit sekitar 10 meter – kiri - dan sampai sudah.
Rumah yang catnya didominasi warna hijau itu seperti biasa, telah tegak berdiri kokoh dan seakan-akan telah siap dengan kedatangannya. Di bagian kiri bagunan ada tangga sempit menuju ke lantai 2. Lantai dimana Nawan memiliki teritorial penuh selama perjanjian lisan satu tahun atas sebuah kotak semen dan bata berukuran 3x3 meter.
Hmm... sepertinya sepi. Rumah besar tampak kosong. Mungkin bapak dan ibu sedang kondangan, bulan Juni sampai Juli kan memang bulannya orang kondangan. Nggak yang nikahan, sunatan, melahirkan, de el el deh. Pokoknya gajian satu bulan ditanggung bisa ludes buat modal ke kondangan.
Anak-anak yang lain juga tidak kelihatan satu pun nongkrong di pos ronda yang seolah sudah berubah fungsi menjadi mabes mereka.
Ah mereka itu. Paling kalau gak lagi molor di kamar masing-masing, yaaa ke rental PS nya Denmas Bei.
Pintu kamar Nawan tertutup tapi tidak dikunci dari luar. Pertanda penghuninya ada di dalam. Atau paling nggak ya tidak pergi jauh dari rumah.
Kingkit masuk tanpa mengetuk pintu dan...
Ternyata...
Tubuh tikus (tinggi dan kurus) itu sedang tiduran asik sambil ngelonin si kucing kesayangannya.
Kegiatan yang paling digemarinya kalau sedang nyantai di kamar.
Katanya sih lebih aman ngelus-elus dan ngeloni tubuh kucing itu dari pada ngelus-elusin orang lain karena bisa-bisa badan kita yang menjadi taruhannya.
Sesaat Nawan terkejut melihat wajah imut Kingkit muncul di sela daun pintunya yang telah terbuka separo. Tapi tetap saja dia tidak bangun dari peraduannya yang semakin menipis dan nyaris sejajar dengan lantai kamarnya. Kingkit berjalan masuk dan langsung melempar tas punggungnya ke kasur tipis itu dan bersandar di dinding di sebelah kasur.
Dari mana Kit?
Tempat Ona . Nggak ke Swakarya nih Mas?
Nanti sorean rencananya, sekarang masih panas. Motorku juga belum datang. Tadi Gay pinjem buat balikin printer di kantor.
Owww...
Jawab Kingkit singkat sambil diiringi gerakan anggukan kepala.
Udah makan Mas?
Udah. Kamu udah ‘pa blom?
Masih sambil ngelus-elus punggung kucing yang makin terlenan saja dibelai-belai. Bagai seorang putri hanyut dalam buaian sang pangeran pujaannya
Belum.
Tadi dari kampus langsung ke tempat Ona.
Kokom sudah datang trus aku kesini aja. Rencananya mo maem sama kamu, tapi kamunya dah maem dulu.
Wajah Kingkit cemberut kecewa namun bernada manja.
Ya udah, beli dulu aja di depan, ntar vertigo-nya kumat lagi.
Anterin ya Maass...
Hmmm... ya ayok, buruan.
Tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah kembali berada di dalam box bata dan semen berukuran 3x3 meter yang terlapis beraneka kolaborasi warna seperti di taman kanak-kanak saja.
Kingkit mencari posisi ternyaman untuk menikmati bungkusan dalam tas plastik hitam kecil yang ditentengnya. Nawan pun tak mau kalah dengan mencari posisi ternyamannya untuk segera menyalakan PCnya.
Sesekali Kingkit menggoyangkan kepalanya sambil menikmati nasi bungkus dari warung Tenda Biru dan mendengarkan House Music yang diputar dari Winamp PC di kamar Nawan.
Makan itu memang enaknya dengan lauk ‘lapar’. Makan apapun pasti terasa enak meskipun hanya dengan ikan asin sepotong kecil dan sambal.
Nawan masih saja asik mengklak-klik foto Gay. Gambarnya kadang jadi merah, kadang jingga, kadang juga kuning...
Bentuk oval, bintang... bintang... besar trus kecil gonta-ganti terus.
Entah mau diapain foto yang memang sudah tak beraturan dari sononya itu. Biarpun dimacem-macemin ya tetap saja foto Gay gak berubah. Paling pol... Gambar aslinya tersamar gradasi warna saja.
Tetep aja jelek Mas.
Bilangin saja sama yang punya, aslinya udah jelek gitu.
Kingkit nyeletuk sambil masih asik makan dan kedua tangannya memisahkan duri yang sepertinya sudah menyatu dengan ikan asinnya, karena saking banyaknya duri di dalam ikan.
Biarin aja, yang penting aku wes melaksanakan tugasku.
Ya itung-itung bantuin temen yang sedang berusaha untuk mensukseskan program asmaranya.
Memangnya kapan mereka mau ketemu?
Mbuh gak ruh... Nggak tau.
Katanya dalam minggu ini Sari mau ke Jogja. Mao ngelamar Gay katanya. Emansipasi ya Kit, cewe’ yang ngelamar cowo’.
Wah... kaya cerita India aja Mas.
Cewe’ nya yang ngelamar cowo’.
Eh Sari dan Mas Gay apa mau bener-bener serius ya?
gebetannya Mas Gay banyak kan.
Hu`uh... gitu sih katanya
Sari yang keberapa ya?!
Akehh Ndukk... banyak banget gebetannya Gay, kurang pantes kalau si Ramli jadi raja Chating... cocoknya si Gay itu raja Chatingnya.
Mas Gay udah dapat pic nya Sari?
Jelas sudah. Cuaakeep dan fungkehh katanya. Kaya Avril Lavigne yang lagi main skater itu tu. Tempo ari kan Sari kirim satu slot kretek dan foto aslinya ke Gay.
Jadi Mas Nawan sudah liat juga?
Sudah dong. Emang cakep kok, leader SPG tuh
.
Wow, pinter juga mas Gay cari gebetan.
Mojang Bandung euy. Pasti ya te o pe
---sambil ngacungin jempol tapi jempol tangan lho !!!---
Katanya sih bukan asli orang Sunda. Numpang kuliah aja di sana.
Oooo...
Gelasnya masih kotor Kit, langsung minum dari plastiknya aja ya. Udah agak dingin kan jeruknya.
(BERSAMBUNG!!!)
No comments:
Post a Comment