Thursday, July 29, 2004

BAYANGAN TAK KAN DAPAT DIGENGGAM

(Part 2)

Nawan akhirnya selesai juga ngutak-atik pic Gay yang biarpun sudah ditambah warna, di-zoom, di potong sana-sini dan diputar-putar posisinya tetap saja kelihatan tampang kusutnya.

Dilihat dari mimik mukanya, Nawan tidak merasa cukup puas dengan hasil karyanya.

Kingkit kemudian ganti mengambil alih posisi.
Memasukkan disket ke drive A, run ke Microsoft Word dan membuka file ‘Pembahasan’.

Aku harus revisi lagi, pusing nih.
Reviiisiii terus... sampai mabok revisi aku.(Gumam Kingkit)

Nawan diam seolah-olah tidak peduli dengan gadis mungil di depannya itu.
Masih saja tanganya mengelus-elus si kucing lagi yang masih tiduran manis di sudut kasur nya.
Seolah-olah membawa alam pikirannya ke alam lain dimana di situ dia adalah seorang kesatria dengan jubah kebesarannya dan menenteng pedang besar di kiri pinggulnya.
Di depannya berdiri seorang putri cantik bergaun hijau dengan senyum manis tersungging di bibirnya yang mungil.

Didekatinya putri itu dan semakin dekat... semakin dekat... semakin lebih dekat lagi... dan...
Oh...
Sang putri itu malahan berlari makin menjauh sambil bergandengan tangan dengan seorang ksatria lain yang entah dari mana datangnya. Dari mana datangnya tak disadarinya karena terlalu terpana dengan sang putri.

Huh !!!
Sialan!!! Umpatnya tiba-tiba.

Kenapa Mas?
Kingkit tersentak dan melirik ke arahnya dengan wajah tetap menghadap layar komputer dan jari-jari lentiknya menari di atas key board yang huruf-hurufnya nampak sudah tinggal separo-separo.

Eh... nggak pa`pa.
Ini kucing gila, udah dielus-elus malah mo nggigit.

Dibilangin juga apa... kucing itu karnivora. Tetep aja bakal ngincer daging kalau ada daging. Kamu sih dibilangin malah ngeyel.
Komentar Kingkit ketus, karena memang pada dasarnya dia tidak terlalu menyukai binatang berbulu itu di dekatnya.

Wah, jangan salah Kit. Kalau dilatih terus, bisa jadi kaki tangan yang lebih bisa dipercaya dari manusia.

Up to you deh.
Kalau belum cuil dagingmu digigit, tetep aja kamu bakal bilang itu binatang manis, lembut, penurut dan tetek bengeknya.

Aduuuuuh....
Gimana nih Mas , belum sempat di save udah hang.
Uhhh... masa harus ngulang lagi.

Hhehehehe... sukurin.
Makanya kalau punya kerjaan itu dikerjakan dengan serius. Nggak usah ngurusin yang lain.

Dihh... kamu tuh yang berisik. Gangguin konsentrasiku aja.
Dah ah... diem dulu kamu.

Bukannya diam, Nawan malah dengan jailnya menggelitik perut dan rambut Kingkit. Sehingga tak ayal lagi tertundalah lagi revisi yang harus dibuat Kingkit.
Mereka berdua pun akhirnya asik bercanda di sore hari itu





Malam terasa semakin dingin saja. Angin terasa makin dalam menusuk kulit menembus jaringan-jaringan tubuh sampai terasa di organ-organ dalam.

Dingin... teramat dingin.
Masih saja putri bergaun biru itu selalu hadir dalam angannya.
Amitha... kenapa Amitha terus yang hadir di kepalanya.
Bukannya Kingkit.
Seharusnya Kingkit lah yang menjadi putri itu, bukan Amitha.
Ohh Amitha... tolong pergi jauh... sejauh mungkin sampai tak bisa kugapai lagi.

Tapi tidak!!!
Tidak!!!
Aku tidak sanggup kehilanganmu.
Amitha... kenapa harus kau katakan kalau kau belum bahagia dengan suamimu. Kenapa sayang? Tidakkah kau sadar cintaku belum hilang, cintaku belum pudar, cintaku belum sirna. Dan...kenapa kamu pun masih mencintaiku, itu salah besar sayang. Kita semua tau itu salah.

Sambil merebahkan diri terlentang di kasurnya yang selama ini selalu setia menampung tubuhnya. Nawan kembali membuka pesan masuk di ponselnya. Membaca kembali sms Amitha yang terakhir yang mengatakan malam itu dia menangis karena habis bertengkar dengan suaminya hanya karena suaminya cemburu padanya.

♫“Haruskah merasa salah di diriku, bila mencintaimu yang tlah berdua. Seolah aku perawan cinta yang haus kasih. ♪Kuhanya mencoba bermain api, tapi akhirnya sulit aku padamkan. ♫Hati kecilku… mengatakan ini harus diakhiri”♫

Rosa sialan, ngapain nyanyi di saat seperti ini.
Aku bukan perawan tau!!!
Aku ini pria sejati.

Dengan ujung jempol kaki kirinya Nawan mematikan radio yang kebetulan sekali sedang melantunkan tembang Perawan Cinta nya Rosa.
Nawan kembali menatap langit-langit di kamarnya.

Yah...
Benar...
Ini memang harus diakhiri. Harus!!! Harus!!!
Bukan Amitha, bukan dia... aku tak kan sanggup untuk tidak memikirkannya.
Kingkit... yah...
Kingkit yang harus diakhiri. Dia terlalu lugu untuk menjadi korban persembahan di altar pemujaan cintaku yang kelabu. Dia terlalu baik untuk menjadi budak pelampiasan asaku yang hampa.
Maafkan aku...
Aku sayang kamu tapi aku belum bisa mencintaimu.

(BERSAMBUNG)

No comments: