Dorrrr...
Siang-siang kok ngalamun.
Sedikit tersentak. Dengan kedua ujung bibir sedikit terangkat ke atas beberapa mili dan menunjukkan sebagian barisan gigi yang sudah tercemar warna kecoklatan karena ganasnya serangan nikotin dari kretek yang biasa dihisapnya, Nawan duduk bersandar tembok kamar sebelah tempat tidurnya. Kingkit pun lalu duduk di sebelahnya setelah puas mendapatkan gelombang Swaragama yang sebelumnya diutak-atiknya tidak pas-pas juga.
Udah sembuh sakitnya Mas?
Masih Kit, malah tambah sakit.
Periksa aja lah. Mumpung masih sore lho. Jadi antrinya gak terlalu panjang. Kuantar yuk?!
Gak usah, pusingku ini cuma karena takut saja.
Takut apa?
Sesaat suasanya menjadi hening dan hanya terdengar syair Eternal Flame yang terlantun keluar dari radio di hadapan mereka. Suara yang menghanyutkan seakan-akan menghipnotis mereka berdua sehingga tercipta keheningan yang panjang.
Takut.
Takut membuat kamu sakit.
Maksud Mas??? Kingkit benar-benar bingung dan dengan mimik muka innocent-nya menatap Nawan.
Hmm...
--Terdiam lagi agak lama-- Aku kadang masih sms-an sama Amitha.
Maaf Kit...
Nawan memberanikan diri menatap mata bulat Kingkit lalu wajahnya lunglai dan tertunduk pasrah. Seolah-olah langit seisinya akan jatuh menimpanya
--wah sepertinya terlalu hiperbol yah... hehehe…--
Ohh...
Hanya desahan kecil yang bisa keluar tanpa disusul rangkaian kata yang lain karena memang Kingkit sudah bisa mengetahui apa yang terjadi tanpa menunggu Nawan melanjutkan ceritanya.
Jadi... maunya Mas sekarang gimana?
Mauku cuma satu...
Nawan mulai berani mendongakkan wajahnya dengan perlahan dan menatap sayu ke kedua bola mata Kingkit.
Jangan sampai kamu semakin sakit Kit.
Seakan-akan tulang leher tidak sanggup menopang kepala Nawan lagi dan kembali lagi terkulai lemas kehilangan daya.
Sayangnya...
Aku sudah terlanjur sakit Mas.
Aku tahu itu Sayang.
Suasana kembali tenang... diam... sunyi....
Tanpa ada suara selain penyiar radio yang masih cuap-cuap dan sesekali meladeni telepon masuk. Tanpa ada gerakan sedikitpun… dan tidak saling bertatapan lagi. Mereka berdua hanya terdiam seperti patung dalam posisi duduknya masing-masing.
Mas, aku pulang dulu yah. Sudah hampir gelap.
Suara pelan Kingkit memecah kesunyian dan kemudian bergegas mengambil tas yang tadi dilemparkannya ke kasur.
Iya.
Hati-hati di jalan ya Kit.
.
(Part 4 - The End)
Dinginnya malam Jogja tidak hanya dirasakan di atas saja
--'atas' itu adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut daerah dari jalan kaliurang terus ke utara sampai lokasi wisata Kaliurang--
Tetapi Jogja bagian tengah juga merasa dingin yang serupa.
Udara tetap terasa dingin meskipun sudah duduk berdesak-desakan di dalam kamar Uli yang luasnya hanya 3x4 meter itu.
Player sudah memutar CD sampai ke kepingan kedua, tetapi cerita The Cores itu belum juga ditangkap isinya.
Gantiii aja deh Miiiin
Gak dooong dari tadi!!!
Suara melengking dan manja Ujuk terdengar memprotes tontonan di depan mereka itu.
Film ini memang untuk orang cerdas saja, orang tulalit macam kalian mana bisa nangkap isinya, sela Hermin.
Beh... cam betol aja pon.
Klean tu’ berisik semua dari tadi, jadi tak jelas isinya. Coba klean lihat si Kingkit, tak ada gangguan sikit pun dari dia.
Bi quaaiitttt!!!
Mantap sekali kata-kata yang keluar dari mulut May.
Huuuu...
Serempak mereka protes.
Kamunya aja juga berisik Mbakyuuu.
Belagu kamu May.
Beh... masih saja ko protes kata² awak.
Sudah lah, kalau mo diganti ya ganti aja. Gitu aja ribut.
Dah ganti gih sonooo...
Uli sambil melempar bantalnya ke arah Hermin sehingga membuat dia tersentak kaget dan terpaksa membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot ke bawah dengan ujung jari telunjuk kanannya.
Li, gwe balik ke kamar dulu yah.
Everi badi... gwe masuk dulu ya. Ngantuk nih.
Yaaaahhh Kit
--sepertinya ada nada kecewa dari kata itu--
Tidur aja sini sekalian, ntar kita-kita ini mo ngacak-acak kamar Uli.
Ikutan aja lah.
Hehehe... tuw lihat muka Uli dah kusut.
Awas kalau besok dia balas dendam trus masukin bom molotop di kamar-kamar kalian, baru tau rasa.
Dah ah... ngamar dulu ya semua...
Kingkit berjalan keluar kamar Uli tanpa mempedulikan suara teman-temannya yang bersaut-sautan mencoba menggoyahkan keinginannya untuk kembali ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi di belakang.
Setelah keluar dari kamar mandi dan mematikan lampu-lampu kecil sekitar dapur dan kamar mandi dia pun melangkah menuju kamarnya.
Ehm...
Duh seriusnya euy.
Tiba-tiba saja wajah Uli sudah muncul di atas rak kecil di samping CPUnya. Ternyata tadi Kingkit lupa menutup pintu kamarnya sehingga tidak menyadari kalau Uli sudah masuk ke dalam kamarnya.
Katanya ngantuk, kok komputer masih nyala?
Tanggung nih Li, tinggal dikit lagi.
Eh... kamar kok ditinggal sih, ancur beneran lho ntar.
Biar deh, sekali-sekali biar mereka puas ngacak-acaknya. Lagian besok aku emang ada rencana mo renovasi dan merubah lay out nya lagi kok.
Celoteh Uli sambil mengaduk Mug berisi air panas dan coffeemix yang ditambahin sedikit gula pasir karena dia tidak pernah merasa pas kalau minuman instannya tidak ditambah gula pasir 1 sendok teh lagi.
Oww...
Suasana menjadi hening sesaat.
Slluurrppp...
Mencoba rasa manis kopinya sudah pas atau belum.
Hmm...
Desahnya sebagai tanda sepertinya sudah merasa puas dengan manis coffemix-nya karena terlihat ada senyum kecil muncul dari bibir Uli.
Jadi beneran nih kamu mau ngelaju? Tinggal dikit kan Non, selesain aja sekalian di sini, kan tanggung.
--ngelaju = istilah pulang–pergi langsung dari rumah, biasanya untuk penjalanan jarak yang agak jauh (luar kota)--
Gimana ya, udah gak ada lagi alasan untuk tetap disini. Lagian duitnya bisa dialokasikan untuk yg lain misalnya buat ngopy draft. Lagian tinggal olah data aja kok. Nggak sibuk cari-cari data lagi.
Yahh...
Sepi dong ntar kalau kamu beneran pergi Kit.
Gak lah, mereka yang di kamarmu itu yang jadi tukang bikin ributnya. Kalau aku kan anak cool, calm meski kadang masih kurang confidence...
Tapi tetap tenang hehehehe... kalau tidur cihh.
Huuu... ngorok gitu aja ngaku pendiam, apanya yang tenang...
Sambil mencubit pinggang Kingkit yang memang saraf-sarafnya lumayan peka dibandingkan bagian tubuh lainnya.
Aww...
Yang penting aku kan gak dengar suara ngorokku.
Loe nggak denger... tetangga tuh yang pada tutup kuping.
Hehehe... kan bisa jadi irama pengantar tidur kalian.
Dasart loe, ya udah terusin gih, aku mo ngawasin trio kwek kwek itu. Bisa-bisa Bu Marbun manggil polisi lagi.
Bu Marbun memang tetangga tersewot di situ. Anak-anak muda yang sedang ronda di pos ronda di depan rumahnya pernah suatu malam meronda sambil bermain gitar. Karena merasa terganggu maka dengan respon proaktif (beliau sendiri yang menyatakan memiliki respon proaktif ini) yang selalu dibangga-banggakannya, Bu Marbun memanggil polisi dan melaporkan anak-anak muda itu dengan laporan mengganggu ketenangan umum. Kontan saja polisi yang datang malam itu hanya bisa cengar-cengir setelah tiba dan melihat TKP.
Waktu terus saja berjalan sampai tak terasa jarum pendek jam dinding telah melewati angka 1 lagi. Ternyata sudah berganti hari. Layar komputer belum dimatikan juga.
Hmm... akhirnya selesai juga.
Semua sudah selesai di save.
Close saja ah.
Setelah saving dan closing semua program yang tadi dibuka, dengan gerakan refleks namun santai, tangan telah menggerakkan dan mengarahkan cursor mouse ke sebuah icon di desktop. Icon kecil bergambar snoppy biru dengan susunan huruf membentuk kata
D-H-I-A.
Hmm... Dhia. Sudah hampir 4 bulan tidak pernah kukunjungi lagi.
Tanggal terakhir jatuh di bulan Maret 2003. Bulan menyakitkan dan penegas bagi hubunganku dengan Putra. Dia masih saja mencintai kekasih lamanya.
Sakit... sangat sakit.
Saat dia begitu dekat denganku, kulit kami saling bersentuhan, nafas kami seolah-olah menyatu dan tatapan mata terasa sangat begitu dekat. Ternyata hanyalah sebuah ilusi bak fatamorgana yang menipu pandangan di bawah terik sang surya.
Dia tidak benar-benar ada, jiwanya menghilang, pikirannya menghilang, dan hatinya pun ikut serta menghilang.
Saat itu kubodohi diriku sendiri, dengan berpura-pura dia ada. Berbuat dan berpikir seolah-olah dia nyata dan hadir untukku.
Namun akhirnya... sakit.
Hanya sakit yang terasa, karena dia bukan untukku meskipun tak mungkin juga dia bisa hadir untuknya. Kami semua merasakan sakit yang sama karena kehilangan. Sakit dalam mimpi buruk tetapi tetap tak mau segera terjaga dari mimpi buruk itu.
Hmmm...
Ingin menyapa Dhia lagi.
Dearest Dhia,
AB 08072003, tengah malam dingin di tengah kota Jogja.
Empat bulan setelah kurasakan sakit yang memilukan itu, seolah-olah waktu kembali berputar ke belakang. Sepertinya portal pintu waktu kembali dibukakan untukku. Kupikir aku bisa kembali dan menambal kebocoran akibat lubang-lubang di masa lalu itu. Tetapi aku salah Dhia, aku tidak sanggup menutup lubang itu sendirian. Bahkan malah kubuat lubang yang lebih besar. Seluruh tubuh ini menjadi lemah dan semakin tak berdaya Dhia. Bukan hanya karena lubang ataupun paku-paku yang menancapinya, tetapi karena AKU...
Karena si A K U ini yang terlalu lemah untuk bangkit berdiri di atas kedua kaki sendiri. Melangkah di jalan yang benar. Justru lebih bodohnya lagi karena kulalui jalan yang sama yang pernah membuatku terperosok ke lubang yang sama.
Bayangan itu terasa sangat nyata... tapi sayang... bayangan itu tak kan pernah dapat digenggam. Hanya bisa dilihat dengan indera dan dirasakan dengan jiwa. Tak bisa juga diusir pergi.
Kisahku dan Putra seolah terulang kembali. Kenapa penulis naskah skenarionya tidak merubah alur ceritanya. Kenapa tidak membuat sekuelnya saja tetapi malahan memplagiat kisah itu. Kenapa harus sama seperti itu??? Apa tidak bosan dengan jalan cerita yang monoton tapi membuat pilu. Aku tidak tau Dhia, kapan portal lorong waktu akan menutup dan melemparku ke alam kosmik yang benar. Sehingga bisa kulanjutkan kembali langkahku ke depan.
Dhia... tahukah kamu kalau Tuhan benar-benar mengabulkan permohonanku. Saat aku minta keberanian, Dia memberiku kesempatan agar bisa kugunakan. Saat aku minta cinta dan kasih sayang, Dia memberiku orang-orang yang terluka hatinya supaya aku bisa berbagi kasih dan sayang dengannya.
Permohonanku dikabulkan.
Tapi Dhia... kenapa aku masih juga merasa sakit??? Aku ingin sembuh dari sakit ini tapi bagaimana caranya Dhia. Kamu tau jawabannya Dhia? Beritahu aku jawabannya Dhia, tolong beri aku jawaban!!!
.
No comments:
Post a Comment