Wednesday, August 04, 2004

KEHIDUPAN ITU TERBALIK

Pasrah... dengan menguak segumpal harapan.
Menatap langit b’hias surya pagi.
Membawa angan ‘tuk menyadari
Kekuatan maha dasyat di baliknya.
Terkuat diantara semua yang kuat
Teranggun diantara segala yang anggun
Terlembut diantara semua yang lembut.
Sungguh... begitu manis dan indah
Berhias taburan kosmik-kosmik semesta alam
Semakin memberi sentuhan hidup di jiwa yang baru saja lahir.

Kumenangis di bawah kebesaranMu
Seolah... jiwa kotor yang sedang menerima hukuman berat.
Masuk ke dalam lorong waktu panjang...
Dan otak pun terstimulan ‘tuk menangkap semua.
Laksana bermeter-meter rol-rol film yang sedang berputar
Menayangkan sebuah cerita...
dan...
AKU lah tokoh utamanya.
Rol-rol itu berhenti berputar dengan ending yang memukau.

Harum...
Indah...
Dan sepertinya meriah
Banyak yang datang dan memberi salam.
Banyak rangkaian-rangkaian bunga menghiasi sekelilingku.
Seluruh keluargaku berkumpul, bahkan hadir orang-rang yang kusayangi maupun yang ‘pernah’ kusayangi.
Bukan hanya itu, hadir juga orang yang pernah kusakiti... dan mengucap salam
Ending yang hebat...
Kisah besar...
Kisah di hari ‘PEMAKAMAN’ ku.

Rol-rol kembali berputar dengan cepat.
Melemparku kembali ke alam kosmik
Jiwaku bereinkarnasi... 'tuk kembali menorah cerita, kembali memproduksi film baru dalam gulungan rol-rol baru
Dan tetap...
AKU lah tokoh utamanya
(wiek’s last July 2003)


Halooo
Terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang telepon.
Pagi Mbak, bisa bicara dengan Tyo?
Ooo bisa, ini dari siapa ya?
Kembali lagi suara lembut itu memberikan respon.
Saras
Sebuah jawaban singkat terdengar.
Ooo Saras. Kemana saja kamu, kok lama gak ada kabarnya?
Ada kok Mbak, sedang ngurus penelitian saja. Mbak gak masuk nih?
Masuk bentar lagi Ras. Tunggu bentar yah...
Yooooooo... telpooonnn, Suara mbak Veti sampai kedengaran dari seberang telepon.

Halo
TIdak begitu lama kemudian sudah berganti dengan suara tenornya Tyo.
Aku nih, Saras.
Valentina Artririn Saraswati?
Iyalahh, memang ada berapa sih Saras yang kau kenal?!
Suaranya sebenarnya tidaklah bernada seperti sebuah pertanyaan tetapi lebih seperti ungkapan sebal.

Ha-ha-ha
Tyo malah tertawa seakan puas dengan gurauannya yang sebenarnya terasa garing ditambah garingnya tenggorokan karena panas menyengat siang itu.
Kenapa bangkit dari kubur? Sudah puas ya semedi disono?
Iya nih Yok, manusia udah makin bejat. Bikin dunia makin panas aja, sampe dunia bawah tanah pun terasa makin panas. Gerah banget makanya aku keluar, dan sekarang kamu lah yang bakal kujadikan tumbal pertamaku

Bolehhh... silahkan ambil semua dariku. Apa sih yang tidak untuk my sweet friend yang mungil, imut dan makin mirip jeruk Kingkit ini.

Jeruk Kingkit semacam tanaman perdu dengan buah dan aroma menyerupai jeruk kecil dengan ukuran terbesar hanya sebesar mainan gundu/kelereng. Teman-temannya tidak ada yang mengetahui nama pasti tanaman itu, dan Sekar lah yang pertama kali menyebutnya jeruk Kingkit karena di masyarakat memang dikenal dengan nama jeruk Kingkit. Dari situlah panggilan Kingkit mulai melekat untuk Sekar yang memang dari sananya telah mendapat kromosom tubuh mungil yang kemungkinan besar berasal dari ibunya.

Sudah turun gunung belum?
Of couse my sweety. Malas bikin surat pengantar fakultas lagi jadi gak boleh telat lagi.
Masih ikut KRS ya Yok?
Masih nih Kit, kamu?
Masih ikut juga. Kamu tau jadwalnya nggak?
Yang pasti sih sekarang belum mulai, sekarang yang SP aja masih pada ujian. Jadwal untuk kuliah regular belum keluar. Baru kemarin aku ke kampus.
Hmmm...hari ini ngampus nggak?
Nggak nih, mau ngurus buat lomba 17-an ntar. Kamu ikut lombanya ya. Nanti aku daftarin bareng sama anak-anak smp, masih cocok kok Kit.
Hehehe makasih Yok, kamu baik deh. Tapi aku udah daftar balap karung sama anak-anak SD, katanya SD pun juga masih cocok kok.

Ha-ha-ha. Makin kacooo loe. Eh kemana aja kok gak pernah kelihatan, kangmas kangen nih. Khawatir kalau-kalau diajeng sudah ‘rabi’ alias dah nikah.
Maunya sih gitu Yok, tapi batal. Nggak enak nglancangi kamu jadi aku nunggu kamu dulu, baru nyusul nanti.
Walaahhh... bisa jadi perawan tua loe, kamu kan cewe’ trus sudah 21 taun. Cukup mateng lah. Kalau aku kan cowo’ sampai 40 taun juga masih laku.
PD mu itu lho Yok... nggak nguatin... Alias Pekok Dewe. Eh, aku kangen ngobrol sama kamu nih. Kapan ada waktu?
Sekarang juga bisa.
Kalau gitu nanti aku ke tempat kamu yah.
Oke... kamu kesini aja, mbakku udah berangkat kerja jadi aku sendirian sekarang.
Yoh wes, ntar ya aku ke situ. Siapin semua yahhh... Eh ntar dulu, kamu punya apa di situ?

Alamaaakkk... masih nanya lagi. Pikir aja sendiri, apalagi yang bisa disediakan pria bujangan yang hidup sendirian dalam rumahnya selain seperangkat tempat tidur yang sudah siap untuk digunakan.

He-he-he... gemblungmu gak bisa ilang. Wes ya, nanti aku ke tempatmu.
Oke deh my sweety... muachhhhhhhhhh...

Percakapan lewat telepon itu pun akhirnya berakhir.

Jalanan siang itu tidaklah terlalu ramai. Perjalanan ke perumahan Griya Permai seakan panjang dan tak berujung. Terasa jauhhh dan lama. Biasanya mas Nawan langsung menawarkan diri mengantar kalau tau aku akan melakukan perjalanan jauh begini. Tapi sekarang tidak bisa lagi. Sendiri lagi seperti dahulu-dahulu, sebelum ada Putra, sebelum ada mas Nawan dan sebelum aku berubah jadi wanita manja yang tergantung antar dan jemputan dari orang yang selalu menawarkan jasa ikhlasnya yang katanya tidak meminta imbalan apapun.

Cuma Tyo yang tidak berubah, dahulu... sekarang... dan semoga sampai kelak masih seperti itu. Lelaki teregois yang tidak tau malu biarpun saat makan di kantin SGPC Bu Wiryo dibayarin teman wanitanya, dibonceng sepeda motor sama cewek, yang paling sering bilang tidak kalau disuruh antar jemput pacarnya, yang paling tidak mau diminta benerin busi sepeda motor teman meskipun temannya itu wanita. Ini berdasarkan pengalaman pribadiku lho. Jadi entah kalau sama wanita lain... mungkin saja bakalan ‘jaim’… jaga image.

“Eh, kalau sudah pakai motor itu yah minimal urusan bensin dan busi harus ngerti. Mentang-mentang cewe’ maunya manja aja, nggak bisa tuh. Buka sendiri.”
Yah begitu lah dia, lebih banyak ngomelnya meskipun tidak meninggalkan begitu saja temannya yang sedang kesulitan.
Aku kangen dengan caciannya yang mirip umpatan pada musuh bebuyutannya. Aku juga kangen dengan komentar-komentarnya yang mirip dosen yang sedang memberi mata kuliah berbobot 3 sks.

Jauhnya rumah itu, perasaan dulu tidak sejauh ini. Hmm... Mbesi ke timur, sampai perempatan lalu ke utara terus. Tapi dimana perumahannya ya... aduh... kok jadi linglung begini.
Ya ampun...
Wah... ternyata aku lupa jalan ke rumah Tyo



..::BersambunG::..

No comments: