Friday, August 13, 2004

EdelwisE

Suara mercu suar memecah kesunyian malam yang bertabur beberapa bintang saja karena banyak bintang-bintang yang enggan untuk memunculkan dirinya malam itu. Kapal KM Leuser tujuan pelabuhan Tanjung Mas Semarang baru berangkat pukul 19:30 WIB.

Grrhhzz...

Udara cukup dingin menusuk meskipun berada di kota katulistiwa. Meskipun kulit sudah tertutup sehelai kain nilon bermerek Hammer dan selapis jaket bulu angsa warna orange itu tapi tetap saja tidak mampu menghalau laju sang bayu menusuk pori-pori kulit .

Di sebelah duduk seorang bapak bertumbuh tambun tinggi kira-kira 165cm dengan cigarette menyala di jemari kanannya. Sesaat saling berpandangan mata dan terlihat mata tajamnya penuh selidik seperti menelanjangi seluruh bagian tubuh. Tatapan yang begitu dalam menelusuri ujung sepatu kets butut berwarna biru muda yang sudah mendekati warna coklat hingga bandana hitam yang melilit di kepala.

Si bapak bertubuh tambun berdiri dan menjinjing ransel hijau tua dan sekotak kardus bekas bungkus mie instant yang ditali raffia plastik rangkap-rangkap. Dia semakin mendekat hingga duduk persis di kursi sebelah.

Ke Jawa mana Dik? Suaranya begitu hangat dan sama sekali tak menggambarkan kesangaran yang terlihat dalam mimiknya.

Jogja Pak. Bapak sendiri akan kemana?

Kampung halaman saya Kediri tapi saya singgah dulu di tempat kerabat yang ada di Ambarawa. Rokok Dik...
Si bapak menyodorkan sebungkus rokok kreteknya.

Makasih Pak.

Pulang kampung atau ada perlu lain di Jogja?

Mengikuti kemana kaki melangkah saja Pak. Sekalian mencari sesuap nasi. Kalau di Jogja sudah tidak ada sesuap nasi lagi berarti saja harus berjalan terus.

Wah... Adik ini seorang penggembara ya.
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyum kecil namun sepertinya si bapak sudah paham maksudnya.

Kalau begitu sama, dulu saya juga pengembara. Bahkan baru saja ini saya juga baru pulang dari pengembaraan saya dari Brunei. Sekarang sudah lelah dan ingin kembali ke kampung di desa.

Sungguh tak disangka kalau bapak berperawakan sangar itu ternyata begitu ramah dan bersahabat. Selalu saja ada bahan bicara yang tidak pernah habis dipercakapkan. Obrolan pengisi waktu menunggu diantara mereka berdua terus berlangsung sampai berjam-jam. Tak sadar rokok sebungkus sudah hampir habis dan baru tersadar akan adanya perjalanan lagi setelah terdengar kembali suara terompet kapal yang menandakan KM Leuser tujuan Tanjung Mas Semarang sudah merapat di pelabuhan Pontianak.

Penumpang tidak seramai saat keberangkatan 3 tahun yang lalu.
Tiga tahun yang lalu, hanya berbekal nekat, ditelusurinya jalanan kota Pontianak yang masih asing sama sekali. Berjalan dan terus berjalan mengikuti kemana kaki melangkah.

Tiga tahun yang lalu.. ditelusurinya jalanan kota Pontianak itu. Bangunan dipinggir jalan yang dilaluinya terlihat didominasi ornamen-ornamen berwarna merah dan kuning emas. Tali, pita, lampion dan berbagai macam hiasan berwarna dasar merah tergantung di sana-sini.
Setibanya di jalan Gajah Mada semakin terlihat jelas kemeriahan warna merah dan keemasan. Banyak pedagang kaki lima berjualan beraneka makanan dan minuman ala Cina. Tempat mereka berjualannya terbuat dari kayu ataupun bamboo. Tentu saja pedagang yang berjualan didominasi oleh masyarakat Tionghoa. Sesekali terdengar suara percakapan transaksi diantara penjual dan pembeli dengan bahasa Cina yang sama sekali tak diengerti artinya. Jika diperhatikan, suasana jalanan itu mirip dengan Pecinan dalam film-film barat.

Perayaan Imlek tinggal beberapa hari. Tak aneh jika saat itu kota yang dihuni oleh etnis Tionghoa itu begitu meriah mempersiapkannya.

Langkahnya terhenti di sebuah kedai kopi. Jam sudah menunjukkan pukul 20:30 dan kedai itu tidak terlalu ramai pengunjung. Bapak tua penjaga kedai menghampirinya di kursi pojok yang dipilihnya.

Kopi
Iya... satu.
Bapak itu berjalan kembali ke dalam dan tak berapa lama kemudian kembali datang dengan membawakan pesanannya.

Bukan dari sini ya.
Bukan Pak, saya baru tiba.
Tanpa ada yang meminta, si bapak sudah langsung menarik salah satu kursi di bangku situ lalu kemudian duduk di situ. Wajahnya yang ramah dengan mata sipit yang semakin tidak kelihatan disaat melebarkan senyumnya menyiratkan keramahan pada pribadi yang berada di depannya ini.

Datang dari mana?
Slrruuuppp....
Diminumnya sedikit kopi dalam cangkir yang masih panas karena terlihat uapnya masih banyak mengepul.
Jauh Pak, saya dari Jawa.
Tujuannya mau kemana Dik.
Panggil saja Nawan, nama saja Nawan.
Disebutkannya namanya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah bapak yang duduk didepannya.

A Seng. Jawab si bapak singkat.
Belum tau mau kemana, saya ada teman yang tinggal di daerah Sei Adung. Mungkin saya akan kesana dulu.
Sekarang sudah larut, Sei Adung masih jauh. Sulit mendapatkan transportasi ke sana. Istrirahat dulu saja disini kalau mau.

Nawan sangat terkejut dengan tawaran bapak yang baru saja dikenalnya ini. Bagaimana bisa dia mudah percaya dengan menawarkan tempat istirahat kepada orang asing yang baru ditemuinya dan berbicara belum sampai setengah jam. Dan sepertinya si bapak menangkap gelagat keterkejutannya.

Saya tinggal bertiga dengan 2 pegawai saya. Kalau mau tidur seadanya, tidak masalah kok. Besok pagi-pagi begitu ada angkot lewat, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Sei Adung.

Dan begitulah, malam pertamanya di kota katulistiwa dihabiskannya di sebuah kedai kopi bersama 3 orang asing yang baru ditemuinya. Pak A Seng seorang pekerja keras, dia tinggal sendirian di Pontianak dan bekerja di kedai kopinya ditemani 2 orang pegawainya. Rudi seorang warga Melayu dari Sei Raya dan A Liong tetangganya dari Singkawang. Istri dan anaknya masih tinggal di Singkawang untuk mengurus ladangnya.

Nawan baru bisa tidur menjelang pagi hari karena kedai kopi itu dibuka sepanjang malam. Semakin malam semakin ramai pengunjungnya. Sesekali pak A Seng menghampiri dan bercakap-cakap dengannya.

Kalau orang Cina di Jawa itu kaya-kaya ya.
Kalau disini gembel saja banyak orang Cinanya ya.
Katanya sambil tertawa-tawa sendiri. Nawan pun hanya menanggapi dengan senyuman kecil.
Malam itu pak A Seng banyak bercerita perbedaan orang Tionghoa di Jawa dan di Kalimantan.



Sinar matahari terasa hangat menyentuh pipinya. Dibuka kedua matanya perlahan-lahan. Telinganya menangkap suara gemericik air. Nawan kemudian bangun dan memperhatikan sekelilingnya. Kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah suara gemericik air yang tadi didengarnya. Dia berhenti di pintu belakang dan dilihatnya A Seng sedang mencuci pakaiannya.

He-he-he. Ya begini kalau jauh dari istri. Semua harus dikerjakan sendiri.
Bagaimana tidurnya, bisa nyenyak?

Lumayan Pak.
Jawabnya singkat sambil tangan kanannya menggaruk-garuk dada dan sekitar lehernya dan sesekali tangan kiri mengusap-usap matanya.

Mandi dulu biar lebih segar.
Kata pak A Seng yang terlihat geli memperhatikan tingkah lakunya.
Dengan senyum malu-malu, Nawan kembali berjalan masuk dan mengambil handuk kecilnya yang selalu setia menemaninya kemana pun dia berada. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi yang berada di pojok belakang rumah itu.

Ritual mandinya yang bisa dibilang cepat itu akhirnya selesai juga.

Di saat keluar dari kamar mandi, dia dibuat terkejut karena Rudi sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan mimik muka yang dilipat-lipat dan kedua tangannya mengelus-elus perutnya. Dia pun keluar dari kamar mandi sambil senyum-senyum sendiri.

Kemudian berjalan kembali ke dipan yang dipakainya untuk tidur tadi malam. Saat itu dilihatnya pak A Seng sedang menyalakan Hio dan mengganti buah-buahan dan kue-kue sesajian dengan yang baru. Ditancapkannya Hio itu ditempat semacam guci kecil yang telah ada sisa-sisa Hio yang telah dibakar, setelah sebelumnya mulutnya komat-kamit mengucap doa. Ada tiga patung kecil yang diletakkan dalam rumah-rumahan kecil berwarna merah itu.


..::BersambunG::..

No comments: