Saturday, August 07, 2004

HIDUP ITU TERBALIK

Halloo...
Terdengar suara pria dari seberang telepon.
Yok... aku lupa jalan ke tempatmu.
Lho Kit, kamu sekarang dimana?
Wartel di samping minimarket perempatan Mbesi.
Ya udah, tunggu di situ. Aku jemput kamu.

Kingkit tidak perlu menunggu terlalu lama di depan toserba samping wartel yang digunakannya tadi karena tak lama kemudian Tyo sudah terlihat berhenti di sebrang jalan di ujung perempatan itu. Perjalanan sampai perumahan Griya Permai tidak sampai memakan waktu 10 menit.

Begitu tiba, mereka memasukkan sepeda motor masing² ke dalam halaman rumah Tyo dan kemudian duduk santai di ruang tamu. Rumah Tyo sepi karena kakak perempuannya sudah berangkat bekerja sedangkan kedua orang tuanya sedang mengunjungi kakaknya yang lain yang baru saja melahirkan.

Kok bisa lupa Kit?
Tyo mulai membuka percakapan.
Aku kan baru sekali datang kemari dan itupun sudah lama sekali. Kamu sih pake acara pindah-pindah rumah segala.

Yah... yang dulu kan belum pas jadi ya perlu digeser-geser lagi biar pas.
Kalau yang begini sih bukan menggeser namanya. Pindah!!!
He-he-he... ya bergeser lah. Dari Jogja barat ke Jogja utara. Geser dikit kan.
Eh diminum Kit, bilang lho kalau kurang manis.

Emang kenapa kalau kurang manis? Kingkit sambil nyruput sirup leci dingin yang barusan dibuatkan oleh Tyo.

Ya gak papa sih, cuma kusuruh bilang aja kok.
Jawab Tyo sekenanya.

So... gimana ceritanya Kit. Kamu ini masih kayak ABG aja. Sekarang bukan masanya lagi iseng-isengan tapi cari pendamping hidup yang beneran. Jangan keasikan main-main terus ah.
Yeee... sapa juga yang main-main, aku serius gini kok. Tapi tali merahnya memang sudah aus. Gara-gara digerogoti tikus-tikus jail tuh, makanya gampang putus.

Ohhh... yaaaaa??!!!
Timpal Tyo yang tak jelas itu suatu bentuk pertanyaan retorik atau sebuah pernyataan ledekan untuk sahabatnya ini.
Kingkit hanya meringis kecil seakan-akan telah tanggap dengan pernyataan tak jelas lelaki ganteng yang duduk di depannya itu. Lebih dari 5 tahun bersama tetapi kenapa tak disadarinya kalau selama ini didekatnya ada lelaki yang begitu menawan dan rupawan.

Hmmm... seandainya aku baru saja berjumpa denganmu sekarang, mengenalmu sekarang, dan tidak duduk bersebelahan saat mengikuti kuliah Operational Research di ruang C2…. Seandainya kita tak pernah berada dalam kondisi terburuk dengan tidak mandi selama dua hari dua malam saat mendaki Slamet. Seandainya kita pun tidak perlu berbasah ria kehujanan dan bertengkar hebat sepanjang sungai demi mencapai sumber mata air di Kalikuning karena tak menemukan jalan kembali yang benar. Seandainya kita juga tak pernah bertengkar dan perang dingin selama 2 jam saat sepeda motorku harus turun mesin karena tanjakan di Selo Boyolali. Dan seandainya... aahh... terlalu banyak yang terjadi. Seandainya itu semua tak terjadi pada kita.

Kupasti akan bernasib sama seperti gadis-gadis yang rela berpanasan di sudut halaman belakang kampus dekat tempat parkir hanya supaya terlihat olehmu saat kamu akan pulang. Atau gadis-gadis yang berakting bagai peminat buku-buku teknologi saat pameran buku di Boulevard ataupun plasa lantai 2 itu supaya bisa mendengarkan promosi yang harus kau lakukan pada pengunjung di stan bukumu. Atau gadis-gadis yang rela mengorbankan puluhan bahkan ratusan pulsa per minggu agar pesannya masuk ke ponselmu.


Ya udah kalau gitu.. pokoknya ingat yah... life must go on!!! Suara Tyo membuyarkan hayalan di kepalanya.
Tyo meraih gitar di ujung kursi panjang itu dan mulai memainkan jemarinya di atas senar dawai. Suara senandungnya pelan tetapi cukup menciptakan suasana menyenangkan di siang itu. Petikannya halus... lembut... dan indah... menerbangkan angan ke saat-saat indah bersama.

Hmm... bersama siapa yah (tidak ada yg tau karena hanya mereka sendirilah yang bisa tau isi di dalam kepalanya sendiri).
Sambil mendengarkan petikan dawai dan senandung Tyo, Kingkit sesekali ikut bersenandung ringan.
Tyo tak jauh berbeda dengan Kingkit, kehilangan mawar yang sangat disayanginya. Mawar yang dengan susah payah dipetiknya. Mawar yang telah disimpan dan dijaganya... hilang dan entah dimana sekarang.

Tapi itulah dia... tak pernah wajahnya terlihat seperti orang yang terluka. Tak pernah kelihatan seperti orang yang sedang sakit. Meskipun jauh di dalam sana, luka yang mendera cukup besar dan dalam. Pastilah ngilu sekali. Walau tak pernah dia tunjukkan.
Dia terlihat sangat tegar dan kuat. Tegas dan pasti!!! Hitam dan Putih!!! Take it or leave it!!!

Beberapa saat kemudian kebersamaan mereka berdua dipecahkan suara yang cukup keras.
Diiiiiiiiinnnnnnnnnnn.........
Yah... tak salah lagi itu suara klakson mobil yang sudah lama tidak mereka dengar lagi. Itu klaksonnya si gembul... Ardana.

Sore bro !!! Ardana langsung masuk tanpa menunggu aba-aba dari tuan rumah untuk masuk dan mengambil sebatang rokok di meja ruang tamu itu. Kepulan asap rokoknya langsung memenuhi ruangan seperti panggung pentas seni yang mengepulkan asap untuk memeriahkan suasana. Heran anak satu ini, kalau merokok selalu saja asapnya bisa keluar paling banyak dibanding dengan orang lain.

Dari mana Mbul?
Dari bawah... nyonya besar minta diantar cream bath.
Lho kok ditinggal. Gimana kalau dapat tuan besar baru?
Ah... tak mungkin itu.
Jangan yakin dulu Mbul. Tyo langsung menyumbang suaranya.
Dalam sejarah cerita itu, tidak pernah ada kejadian Dewi Sinta akhirnya menikah dengan Rahwana. Sinta itu jodohnya sama Rama. Tyo sambil menepuk dadanya.

Yah... kecuali sudah ada yang membuat cerita lanjutan atau sekuel terbarunya sih.

Wah... jangan gitu Bro -Protes Ardana yang tentu saja tau mau begitu saja kalah dengan Tyo- Anda ini bisa saja menang tampang kalau dibanding saya. Tetapi soal asmara... saya berani membanggakan diri lebih dari pada Anda.

Ardana dengan penuh keyakinan dan kebanggaan yang teramat sangat ditonjolkannya tak mau mengalah pada Tyo.
Mereka bertiga pun akhirnya hanyut dalam pertikaian sengit yang menguji kemampuan verbalnya untuk saling menjatuhkan lawan bicara. Satupun tidak ada yang mau mengalah dalam membanggakan diri masing-masing. Yah... suasana yang sudah lama tidak mereka rasakan sejak para dedengkot kampus ini mengambil sikap untuk mundur sejenak dari rimba persilatan... di kampus.
-Wedew... kayak cerita Misteri Gunung Merapi saja-

Sekarang bak pertapa-pertapa yang semedi lama di pesanggrahannya masing-masing, para dedengkot ini kembali turun gunung dan memutuskan untuk kembali meramaikan dunia persilatan.
Memang belum lengkap berkumpul. Tetapi cukup sebagai pengantar cerita yang dapat menggambarkan serunya rimba persilatan nantinya begitu para dedengkot yang lain juga turut bermunculan. Beberapa dedengkot yang sempat beralih fungsi menjadi dahyang² masih berada dalam perjalanan turun gunung.



Kupandangi layar monitor di depanku. Terasa dingin karena AC warnet yang terletak persis di atasku dinyalakan dengan frekwensi pendingin yang tinggi.
Beberapa e-Mail baru masuk, beberapa pesan masuk dan kiriman foto dari kawan-kawan sekolah menengah dulu yang kemarin habis diwisuda. Bahkan beberapa sudah mendapat gelar strata 2.
Sudah 6 tahun. Tinggal menunggu wisuda saja. Mengisi waktu tunggu dengan menulis skripsi. Alasan pembenaran diri bagi mahasiswa-mahasiswa yang sudah atau pun hampir menyandang gelar MA. Disayangi dosen… alasan lainnya.
Penyesalan tinggal penyesalan. Selalu saja hadirnya terlambat. Tapi sebuah pembenaran diri lagi, yaaaaaaaah... lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Begitulah yang sering keluar dari bibir-bibir itu saat protes mencerca mereka.
Hhmmm... ilmuku sudah cukup di sini. Sudah sama dengan rekan-rekan se-lefting. Melalui jalan dan alur yang sama pula. Sudah saatnya menimba ilmu ke tempat yang lain. Tetapi kenapa kumasih disini??!! Terkunci disini dan belum bisa keluar.

Ohh... tidak juga. Sebenarnya bisa saja aku keluar. Aku bisa jebol engsel jendela atau pintu. Bisa juga dengan memanjat dinding. Atau bisa juga memanjat atap dan membukanya dengan sedikit paksa. Tapi perlukan harus seperti itu???
Di sisi lain aku tak pernah merasa ingin mengenakan Toga hitam seperti mereka. Aku juga tak menginginkan selembar kertas bertulisan tebal --L U L U S--. Aku hanya ingin segera pindah tempat. Belajar. Berkembang. Melanjutkan hidup.
Tapi bagaimana dengan orang tuaku. Apa mereka tidak boleh menuntut sedikit hak atas kewajiban-kewajiban yang telah mereka laksanakan. Sebuah hak yang sebenarnya sangat sederhana. Mereka hanya ingin bisa tersenyum bangga saat melihat buah hatinya berpakaian hitam dan bertoga berjalan di atas mimbar dan menerima ijasahnya dalam gulungan berpita.
Ada e-mail baru lagi rupanya. Dari your_love@softmail.net. Apalagi yang dikirimkannya ya. Dia selalu mengirimiku email yang panjang seperti sebuah renungan. Atau sebenarnya lebih sering seperti hasil paste dari surat kabar.
Isi e-Mail ini tidak terlalu panjang. Seperti sebuah syair ... hmmm... atau sebenarnya lebih mirip seperti puisi. Subjeknya menggelitik untuk dibaca.

KEHIDUPAN ITU TERBALIK

Hidup itu sulit.
Hidup itu menghabiskan banyak waktu, semua akhir minggu
Dan apa yang kau dapatkan pada akhirnya?
..... kematian, hadiah hebat.

Kurasa daur kehidupan itu terbalik.
Kau mestinya mati dulu, singkirkan dulu hal itu.
Lalu kau tingal dua puluh tahun di rumah jompo.
Kau diusir kalau sudah terlalu muda,
Kau mendapatkan jam emas , lalu bekerja.
Kau bekerja empat puluh tahun sampai kau cukup muda
Untuk menikmati pensiun.
Kau kuliah, kau berpesta sampai kau siap untuk SMU,
Menjadi remaja, kau bermain, kau tak punya tanggung jawab.
Kau menjadi anak kecil, kau kembali ke rahim,
Kau melewatkan sembilan bulan terakhirmu melayang-layang
Dan kau berakhir sebagai sinar di mata seseorang
note : Norman Glass diserahkan oleh Tony D Angelo


Kututup mail box ku sambil tersenyum mengingat isi email itu. Hidup ini terbalik. Lalu... bagaimana caranya membalik untuk mendapatkan jalur hidup yang benar?!

No comments: