Friday, August 13, 2004

EdelwisE

Suara mercu suar memecah kesunyian malam yang bertabur beberapa bintang saja karena banyak bintang-bintang yang enggan untuk memunculkan dirinya malam itu. Kapal KM Leuser tujuan pelabuhan Tanjung Mas Semarang baru berangkat pukul 19:30 WIB.

Grrhhzz...

Udara cukup dingin menusuk meskipun berada di kota katulistiwa. Meskipun kulit sudah tertutup sehelai kain nilon bermerek Hammer dan selapis jaket bulu angsa warna orange itu tapi tetap saja tidak mampu menghalau laju sang bayu menusuk pori-pori kulit .

Di sebelah duduk seorang bapak bertumbuh tambun tinggi kira-kira 165cm dengan cigarette menyala di jemari kanannya. Sesaat saling berpandangan mata dan terlihat mata tajamnya penuh selidik seperti menelanjangi seluruh bagian tubuh. Tatapan yang begitu dalam menelusuri ujung sepatu kets butut berwarna biru muda yang sudah mendekati warna coklat hingga bandana hitam yang melilit di kepala.

Si bapak bertubuh tambun berdiri dan menjinjing ransel hijau tua dan sekotak kardus bekas bungkus mie instant yang ditali raffia plastik rangkap-rangkap. Dia semakin mendekat hingga duduk persis di kursi sebelah.

Ke Jawa mana Dik? Suaranya begitu hangat dan sama sekali tak menggambarkan kesangaran yang terlihat dalam mimiknya.

Jogja Pak. Bapak sendiri akan kemana?

Kampung halaman saya Kediri tapi saya singgah dulu di tempat kerabat yang ada di Ambarawa. Rokok Dik...
Si bapak menyodorkan sebungkus rokok kreteknya.

Makasih Pak.

Pulang kampung atau ada perlu lain di Jogja?

Mengikuti kemana kaki melangkah saja Pak. Sekalian mencari sesuap nasi. Kalau di Jogja sudah tidak ada sesuap nasi lagi berarti saja harus berjalan terus.

Wah... Adik ini seorang penggembara ya.
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyum kecil namun sepertinya si bapak sudah paham maksudnya.

Kalau begitu sama, dulu saya juga pengembara. Bahkan baru saja ini saya juga baru pulang dari pengembaraan saya dari Brunei. Sekarang sudah lelah dan ingin kembali ke kampung di desa.

Sungguh tak disangka kalau bapak berperawakan sangar itu ternyata begitu ramah dan bersahabat. Selalu saja ada bahan bicara yang tidak pernah habis dipercakapkan. Obrolan pengisi waktu menunggu diantara mereka berdua terus berlangsung sampai berjam-jam. Tak sadar rokok sebungkus sudah hampir habis dan baru tersadar akan adanya perjalanan lagi setelah terdengar kembali suara terompet kapal yang menandakan KM Leuser tujuan Tanjung Mas Semarang sudah merapat di pelabuhan Pontianak.

Penumpang tidak seramai saat keberangkatan 3 tahun yang lalu.
Tiga tahun yang lalu, hanya berbekal nekat, ditelusurinya jalanan kota Pontianak yang masih asing sama sekali. Berjalan dan terus berjalan mengikuti kemana kaki melangkah.

Tiga tahun yang lalu.. ditelusurinya jalanan kota Pontianak itu. Bangunan dipinggir jalan yang dilaluinya terlihat didominasi ornamen-ornamen berwarna merah dan kuning emas. Tali, pita, lampion dan berbagai macam hiasan berwarna dasar merah tergantung di sana-sini.
Setibanya di jalan Gajah Mada semakin terlihat jelas kemeriahan warna merah dan keemasan. Banyak pedagang kaki lima berjualan beraneka makanan dan minuman ala Cina. Tempat mereka berjualannya terbuat dari kayu ataupun bamboo. Tentu saja pedagang yang berjualan didominasi oleh masyarakat Tionghoa. Sesekali terdengar suara percakapan transaksi diantara penjual dan pembeli dengan bahasa Cina yang sama sekali tak diengerti artinya. Jika diperhatikan, suasana jalanan itu mirip dengan Pecinan dalam film-film barat.

Perayaan Imlek tinggal beberapa hari. Tak aneh jika saat itu kota yang dihuni oleh etnis Tionghoa itu begitu meriah mempersiapkannya.

Langkahnya terhenti di sebuah kedai kopi. Jam sudah menunjukkan pukul 20:30 dan kedai itu tidak terlalu ramai pengunjung. Bapak tua penjaga kedai menghampirinya di kursi pojok yang dipilihnya.

Kopi
Iya... satu.
Bapak itu berjalan kembali ke dalam dan tak berapa lama kemudian kembali datang dengan membawakan pesanannya.

Bukan dari sini ya.
Bukan Pak, saya baru tiba.
Tanpa ada yang meminta, si bapak sudah langsung menarik salah satu kursi di bangku situ lalu kemudian duduk di situ. Wajahnya yang ramah dengan mata sipit yang semakin tidak kelihatan disaat melebarkan senyumnya menyiratkan keramahan pada pribadi yang berada di depannya ini.

Datang dari mana?
Slrruuuppp....
Diminumnya sedikit kopi dalam cangkir yang masih panas karena terlihat uapnya masih banyak mengepul.
Jauh Pak, saya dari Jawa.
Tujuannya mau kemana Dik.
Panggil saja Nawan, nama saja Nawan.
Disebutkannya namanya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah bapak yang duduk didepannya.

A Seng. Jawab si bapak singkat.
Belum tau mau kemana, saya ada teman yang tinggal di daerah Sei Adung. Mungkin saya akan kesana dulu.
Sekarang sudah larut, Sei Adung masih jauh. Sulit mendapatkan transportasi ke sana. Istrirahat dulu saja disini kalau mau.

Nawan sangat terkejut dengan tawaran bapak yang baru saja dikenalnya ini. Bagaimana bisa dia mudah percaya dengan menawarkan tempat istirahat kepada orang asing yang baru ditemuinya dan berbicara belum sampai setengah jam. Dan sepertinya si bapak menangkap gelagat keterkejutannya.

Saya tinggal bertiga dengan 2 pegawai saya. Kalau mau tidur seadanya, tidak masalah kok. Besok pagi-pagi begitu ada angkot lewat, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Sei Adung.

Dan begitulah, malam pertamanya di kota katulistiwa dihabiskannya di sebuah kedai kopi bersama 3 orang asing yang baru ditemuinya. Pak A Seng seorang pekerja keras, dia tinggal sendirian di Pontianak dan bekerja di kedai kopinya ditemani 2 orang pegawainya. Rudi seorang warga Melayu dari Sei Raya dan A Liong tetangganya dari Singkawang. Istri dan anaknya masih tinggal di Singkawang untuk mengurus ladangnya.

Nawan baru bisa tidur menjelang pagi hari karena kedai kopi itu dibuka sepanjang malam. Semakin malam semakin ramai pengunjungnya. Sesekali pak A Seng menghampiri dan bercakap-cakap dengannya.

Kalau orang Cina di Jawa itu kaya-kaya ya.
Kalau disini gembel saja banyak orang Cinanya ya.
Katanya sambil tertawa-tawa sendiri. Nawan pun hanya menanggapi dengan senyuman kecil.
Malam itu pak A Seng banyak bercerita perbedaan orang Tionghoa di Jawa dan di Kalimantan.



Sinar matahari terasa hangat menyentuh pipinya. Dibuka kedua matanya perlahan-lahan. Telinganya menangkap suara gemericik air. Nawan kemudian bangun dan memperhatikan sekelilingnya. Kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah suara gemericik air yang tadi didengarnya. Dia berhenti di pintu belakang dan dilihatnya A Seng sedang mencuci pakaiannya.

He-he-he. Ya begini kalau jauh dari istri. Semua harus dikerjakan sendiri.
Bagaimana tidurnya, bisa nyenyak?

Lumayan Pak.
Jawabnya singkat sambil tangan kanannya menggaruk-garuk dada dan sekitar lehernya dan sesekali tangan kiri mengusap-usap matanya.

Mandi dulu biar lebih segar.
Kata pak A Seng yang terlihat geli memperhatikan tingkah lakunya.
Dengan senyum malu-malu, Nawan kembali berjalan masuk dan mengambil handuk kecilnya yang selalu setia menemaninya kemana pun dia berada. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi yang berada di pojok belakang rumah itu.

Ritual mandinya yang bisa dibilang cepat itu akhirnya selesai juga.

Di saat keluar dari kamar mandi, dia dibuat terkejut karena Rudi sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan mimik muka yang dilipat-lipat dan kedua tangannya mengelus-elus perutnya. Dia pun keluar dari kamar mandi sambil senyum-senyum sendiri.

Kemudian berjalan kembali ke dipan yang dipakainya untuk tidur tadi malam. Saat itu dilihatnya pak A Seng sedang menyalakan Hio dan mengganti buah-buahan dan kue-kue sesajian dengan yang baru. Ditancapkannya Hio itu ditempat semacam guci kecil yang telah ada sisa-sisa Hio yang telah dibakar, setelah sebelumnya mulutnya komat-kamit mengucap doa. Ada tiga patung kecil yang diletakkan dalam rumah-rumahan kecil berwarna merah itu.


..::BersambunG::..

Saturday, August 07, 2004

HIDUP ITU TERBALIK

Halloo...
Terdengar suara pria dari seberang telepon.
Yok... aku lupa jalan ke tempatmu.
Lho Kit, kamu sekarang dimana?
Wartel di samping minimarket perempatan Mbesi.
Ya udah, tunggu di situ. Aku jemput kamu.

Kingkit tidak perlu menunggu terlalu lama di depan toserba samping wartel yang digunakannya tadi karena tak lama kemudian Tyo sudah terlihat berhenti di sebrang jalan di ujung perempatan itu. Perjalanan sampai perumahan Griya Permai tidak sampai memakan waktu 10 menit.

Begitu tiba, mereka memasukkan sepeda motor masing² ke dalam halaman rumah Tyo dan kemudian duduk santai di ruang tamu. Rumah Tyo sepi karena kakak perempuannya sudah berangkat bekerja sedangkan kedua orang tuanya sedang mengunjungi kakaknya yang lain yang baru saja melahirkan.

Kok bisa lupa Kit?
Tyo mulai membuka percakapan.
Aku kan baru sekali datang kemari dan itupun sudah lama sekali. Kamu sih pake acara pindah-pindah rumah segala.

Yah... yang dulu kan belum pas jadi ya perlu digeser-geser lagi biar pas.
Kalau yang begini sih bukan menggeser namanya. Pindah!!!
He-he-he... ya bergeser lah. Dari Jogja barat ke Jogja utara. Geser dikit kan.
Eh diminum Kit, bilang lho kalau kurang manis.

Emang kenapa kalau kurang manis? Kingkit sambil nyruput sirup leci dingin yang barusan dibuatkan oleh Tyo.

Ya gak papa sih, cuma kusuruh bilang aja kok.
Jawab Tyo sekenanya.

So... gimana ceritanya Kit. Kamu ini masih kayak ABG aja. Sekarang bukan masanya lagi iseng-isengan tapi cari pendamping hidup yang beneran. Jangan keasikan main-main terus ah.
Yeee... sapa juga yang main-main, aku serius gini kok. Tapi tali merahnya memang sudah aus. Gara-gara digerogoti tikus-tikus jail tuh, makanya gampang putus.

Ohhh... yaaaaa??!!!
Timpal Tyo yang tak jelas itu suatu bentuk pertanyaan retorik atau sebuah pernyataan ledekan untuk sahabatnya ini.
Kingkit hanya meringis kecil seakan-akan telah tanggap dengan pernyataan tak jelas lelaki ganteng yang duduk di depannya itu. Lebih dari 5 tahun bersama tetapi kenapa tak disadarinya kalau selama ini didekatnya ada lelaki yang begitu menawan dan rupawan.

Hmmm... seandainya aku baru saja berjumpa denganmu sekarang, mengenalmu sekarang, dan tidak duduk bersebelahan saat mengikuti kuliah Operational Research di ruang C2…. Seandainya kita tak pernah berada dalam kondisi terburuk dengan tidak mandi selama dua hari dua malam saat mendaki Slamet. Seandainya kita pun tidak perlu berbasah ria kehujanan dan bertengkar hebat sepanjang sungai demi mencapai sumber mata air di Kalikuning karena tak menemukan jalan kembali yang benar. Seandainya kita juga tak pernah bertengkar dan perang dingin selama 2 jam saat sepeda motorku harus turun mesin karena tanjakan di Selo Boyolali. Dan seandainya... aahh... terlalu banyak yang terjadi. Seandainya itu semua tak terjadi pada kita.

Kupasti akan bernasib sama seperti gadis-gadis yang rela berpanasan di sudut halaman belakang kampus dekat tempat parkir hanya supaya terlihat olehmu saat kamu akan pulang. Atau gadis-gadis yang berakting bagai peminat buku-buku teknologi saat pameran buku di Boulevard ataupun plasa lantai 2 itu supaya bisa mendengarkan promosi yang harus kau lakukan pada pengunjung di stan bukumu. Atau gadis-gadis yang rela mengorbankan puluhan bahkan ratusan pulsa per minggu agar pesannya masuk ke ponselmu.


Ya udah kalau gitu.. pokoknya ingat yah... life must go on!!! Suara Tyo membuyarkan hayalan di kepalanya.
Tyo meraih gitar di ujung kursi panjang itu dan mulai memainkan jemarinya di atas senar dawai. Suara senandungnya pelan tetapi cukup menciptakan suasana menyenangkan di siang itu. Petikannya halus... lembut... dan indah... menerbangkan angan ke saat-saat indah bersama.

Hmm... bersama siapa yah (tidak ada yg tau karena hanya mereka sendirilah yang bisa tau isi di dalam kepalanya sendiri).
Sambil mendengarkan petikan dawai dan senandung Tyo, Kingkit sesekali ikut bersenandung ringan.
Tyo tak jauh berbeda dengan Kingkit, kehilangan mawar yang sangat disayanginya. Mawar yang dengan susah payah dipetiknya. Mawar yang telah disimpan dan dijaganya... hilang dan entah dimana sekarang.

Tapi itulah dia... tak pernah wajahnya terlihat seperti orang yang terluka. Tak pernah kelihatan seperti orang yang sedang sakit. Meskipun jauh di dalam sana, luka yang mendera cukup besar dan dalam. Pastilah ngilu sekali. Walau tak pernah dia tunjukkan.
Dia terlihat sangat tegar dan kuat. Tegas dan pasti!!! Hitam dan Putih!!! Take it or leave it!!!

Beberapa saat kemudian kebersamaan mereka berdua dipecahkan suara yang cukup keras.
Diiiiiiiiinnnnnnnnnnn.........
Yah... tak salah lagi itu suara klakson mobil yang sudah lama tidak mereka dengar lagi. Itu klaksonnya si gembul... Ardana.

Sore bro !!! Ardana langsung masuk tanpa menunggu aba-aba dari tuan rumah untuk masuk dan mengambil sebatang rokok di meja ruang tamu itu. Kepulan asap rokoknya langsung memenuhi ruangan seperti panggung pentas seni yang mengepulkan asap untuk memeriahkan suasana. Heran anak satu ini, kalau merokok selalu saja asapnya bisa keluar paling banyak dibanding dengan orang lain.

Dari mana Mbul?
Dari bawah... nyonya besar minta diantar cream bath.
Lho kok ditinggal. Gimana kalau dapat tuan besar baru?
Ah... tak mungkin itu.
Jangan yakin dulu Mbul. Tyo langsung menyumbang suaranya.
Dalam sejarah cerita itu, tidak pernah ada kejadian Dewi Sinta akhirnya menikah dengan Rahwana. Sinta itu jodohnya sama Rama. Tyo sambil menepuk dadanya.

Yah... kecuali sudah ada yang membuat cerita lanjutan atau sekuel terbarunya sih.

Wah... jangan gitu Bro -Protes Ardana yang tentu saja tau mau begitu saja kalah dengan Tyo- Anda ini bisa saja menang tampang kalau dibanding saya. Tetapi soal asmara... saya berani membanggakan diri lebih dari pada Anda.

Ardana dengan penuh keyakinan dan kebanggaan yang teramat sangat ditonjolkannya tak mau mengalah pada Tyo.
Mereka bertiga pun akhirnya hanyut dalam pertikaian sengit yang menguji kemampuan verbalnya untuk saling menjatuhkan lawan bicara. Satupun tidak ada yang mau mengalah dalam membanggakan diri masing-masing. Yah... suasana yang sudah lama tidak mereka rasakan sejak para dedengkot kampus ini mengambil sikap untuk mundur sejenak dari rimba persilatan... di kampus.
-Wedew... kayak cerita Misteri Gunung Merapi saja-

Sekarang bak pertapa-pertapa yang semedi lama di pesanggrahannya masing-masing, para dedengkot ini kembali turun gunung dan memutuskan untuk kembali meramaikan dunia persilatan.
Memang belum lengkap berkumpul. Tetapi cukup sebagai pengantar cerita yang dapat menggambarkan serunya rimba persilatan nantinya begitu para dedengkot yang lain juga turut bermunculan. Beberapa dedengkot yang sempat beralih fungsi menjadi dahyang² masih berada dalam perjalanan turun gunung.



Kupandangi layar monitor di depanku. Terasa dingin karena AC warnet yang terletak persis di atasku dinyalakan dengan frekwensi pendingin yang tinggi.
Beberapa e-Mail baru masuk, beberapa pesan masuk dan kiriman foto dari kawan-kawan sekolah menengah dulu yang kemarin habis diwisuda. Bahkan beberapa sudah mendapat gelar strata 2.
Sudah 6 tahun. Tinggal menunggu wisuda saja. Mengisi waktu tunggu dengan menulis skripsi. Alasan pembenaran diri bagi mahasiswa-mahasiswa yang sudah atau pun hampir menyandang gelar MA. Disayangi dosen… alasan lainnya.
Penyesalan tinggal penyesalan. Selalu saja hadirnya terlambat. Tapi sebuah pembenaran diri lagi, yaaaaaaaah... lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Begitulah yang sering keluar dari bibir-bibir itu saat protes mencerca mereka.
Hhmmm... ilmuku sudah cukup di sini. Sudah sama dengan rekan-rekan se-lefting. Melalui jalan dan alur yang sama pula. Sudah saatnya menimba ilmu ke tempat yang lain. Tetapi kenapa kumasih disini??!! Terkunci disini dan belum bisa keluar.

Ohh... tidak juga. Sebenarnya bisa saja aku keluar. Aku bisa jebol engsel jendela atau pintu. Bisa juga dengan memanjat dinding. Atau bisa juga memanjat atap dan membukanya dengan sedikit paksa. Tapi perlukan harus seperti itu???
Di sisi lain aku tak pernah merasa ingin mengenakan Toga hitam seperti mereka. Aku juga tak menginginkan selembar kertas bertulisan tebal --L U L U S--. Aku hanya ingin segera pindah tempat. Belajar. Berkembang. Melanjutkan hidup.
Tapi bagaimana dengan orang tuaku. Apa mereka tidak boleh menuntut sedikit hak atas kewajiban-kewajiban yang telah mereka laksanakan. Sebuah hak yang sebenarnya sangat sederhana. Mereka hanya ingin bisa tersenyum bangga saat melihat buah hatinya berpakaian hitam dan bertoga berjalan di atas mimbar dan menerima ijasahnya dalam gulungan berpita.
Ada e-mail baru lagi rupanya. Dari your_love@softmail.net. Apalagi yang dikirimkannya ya. Dia selalu mengirimiku email yang panjang seperti sebuah renungan. Atau sebenarnya lebih sering seperti hasil paste dari surat kabar.
Isi e-Mail ini tidak terlalu panjang. Seperti sebuah syair ... hmmm... atau sebenarnya lebih mirip seperti puisi. Subjeknya menggelitik untuk dibaca.

KEHIDUPAN ITU TERBALIK

Hidup itu sulit.
Hidup itu menghabiskan banyak waktu, semua akhir minggu
Dan apa yang kau dapatkan pada akhirnya?
..... kematian, hadiah hebat.

Kurasa daur kehidupan itu terbalik.
Kau mestinya mati dulu, singkirkan dulu hal itu.
Lalu kau tingal dua puluh tahun di rumah jompo.
Kau diusir kalau sudah terlalu muda,
Kau mendapatkan jam emas , lalu bekerja.
Kau bekerja empat puluh tahun sampai kau cukup muda
Untuk menikmati pensiun.
Kau kuliah, kau berpesta sampai kau siap untuk SMU,
Menjadi remaja, kau bermain, kau tak punya tanggung jawab.
Kau menjadi anak kecil, kau kembali ke rahim,
Kau melewatkan sembilan bulan terakhirmu melayang-layang
Dan kau berakhir sebagai sinar di mata seseorang
note : Norman Glass diserahkan oleh Tony D Angelo


Kututup mail box ku sambil tersenyum mengingat isi email itu. Hidup ini terbalik. Lalu... bagaimana caranya membalik untuk mendapatkan jalur hidup yang benar?!

Wednesday, August 04, 2004

KEHIDUPAN ITU TERBALIK

Pasrah... dengan menguak segumpal harapan.
Menatap langit b’hias surya pagi.
Membawa angan ‘tuk menyadari
Kekuatan maha dasyat di baliknya.
Terkuat diantara semua yang kuat
Teranggun diantara segala yang anggun
Terlembut diantara semua yang lembut.
Sungguh... begitu manis dan indah
Berhias taburan kosmik-kosmik semesta alam
Semakin memberi sentuhan hidup di jiwa yang baru saja lahir.

Kumenangis di bawah kebesaranMu
Seolah... jiwa kotor yang sedang menerima hukuman berat.
Masuk ke dalam lorong waktu panjang...
Dan otak pun terstimulan ‘tuk menangkap semua.
Laksana bermeter-meter rol-rol film yang sedang berputar
Menayangkan sebuah cerita...
dan...
AKU lah tokoh utamanya.
Rol-rol itu berhenti berputar dengan ending yang memukau.

Harum...
Indah...
Dan sepertinya meriah
Banyak yang datang dan memberi salam.
Banyak rangkaian-rangkaian bunga menghiasi sekelilingku.
Seluruh keluargaku berkumpul, bahkan hadir orang-rang yang kusayangi maupun yang ‘pernah’ kusayangi.
Bukan hanya itu, hadir juga orang yang pernah kusakiti... dan mengucap salam
Ending yang hebat...
Kisah besar...
Kisah di hari ‘PEMAKAMAN’ ku.

Rol-rol kembali berputar dengan cepat.
Melemparku kembali ke alam kosmik
Jiwaku bereinkarnasi... 'tuk kembali menorah cerita, kembali memproduksi film baru dalam gulungan rol-rol baru
Dan tetap...
AKU lah tokoh utamanya
(wiek’s last July 2003)


Halooo
Terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang telepon.
Pagi Mbak, bisa bicara dengan Tyo?
Ooo bisa, ini dari siapa ya?
Kembali lagi suara lembut itu memberikan respon.
Saras
Sebuah jawaban singkat terdengar.
Ooo Saras. Kemana saja kamu, kok lama gak ada kabarnya?
Ada kok Mbak, sedang ngurus penelitian saja. Mbak gak masuk nih?
Masuk bentar lagi Ras. Tunggu bentar yah...
Yooooooo... telpooonnn, Suara mbak Veti sampai kedengaran dari seberang telepon.

Halo
TIdak begitu lama kemudian sudah berganti dengan suara tenornya Tyo.
Aku nih, Saras.
Valentina Artririn Saraswati?
Iyalahh, memang ada berapa sih Saras yang kau kenal?!
Suaranya sebenarnya tidaklah bernada seperti sebuah pertanyaan tetapi lebih seperti ungkapan sebal.

Ha-ha-ha
Tyo malah tertawa seakan puas dengan gurauannya yang sebenarnya terasa garing ditambah garingnya tenggorokan karena panas menyengat siang itu.
Kenapa bangkit dari kubur? Sudah puas ya semedi disono?
Iya nih Yok, manusia udah makin bejat. Bikin dunia makin panas aja, sampe dunia bawah tanah pun terasa makin panas. Gerah banget makanya aku keluar, dan sekarang kamu lah yang bakal kujadikan tumbal pertamaku

Bolehhh... silahkan ambil semua dariku. Apa sih yang tidak untuk my sweet friend yang mungil, imut dan makin mirip jeruk Kingkit ini.

Jeruk Kingkit semacam tanaman perdu dengan buah dan aroma menyerupai jeruk kecil dengan ukuran terbesar hanya sebesar mainan gundu/kelereng. Teman-temannya tidak ada yang mengetahui nama pasti tanaman itu, dan Sekar lah yang pertama kali menyebutnya jeruk Kingkit karena di masyarakat memang dikenal dengan nama jeruk Kingkit. Dari situlah panggilan Kingkit mulai melekat untuk Sekar yang memang dari sananya telah mendapat kromosom tubuh mungil yang kemungkinan besar berasal dari ibunya.

Sudah turun gunung belum?
Of couse my sweety. Malas bikin surat pengantar fakultas lagi jadi gak boleh telat lagi.
Masih ikut KRS ya Yok?
Masih nih Kit, kamu?
Masih ikut juga. Kamu tau jadwalnya nggak?
Yang pasti sih sekarang belum mulai, sekarang yang SP aja masih pada ujian. Jadwal untuk kuliah regular belum keluar. Baru kemarin aku ke kampus.
Hmmm...hari ini ngampus nggak?
Nggak nih, mau ngurus buat lomba 17-an ntar. Kamu ikut lombanya ya. Nanti aku daftarin bareng sama anak-anak smp, masih cocok kok Kit.
Hehehe makasih Yok, kamu baik deh. Tapi aku udah daftar balap karung sama anak-anak SD, katanya SD pun juga masih cocok kok.

Ha-ha-ha. Makin kacooo loe. Eh kemana aja kok gak pernah kelihatan, kangmas kangen nih. Khawatir kalau-kalau diajeng sudah ‘rabi’ alias dah nikah.
Maunya sih gitu Yok, tapi batal. Nggak enak nglancangi kamu jadi aku nunggu kamu dulu, baru nyusul nanti.
Walaahhh... bisa jadi perawan tua loe, kamu kan cewe’ trus sudah 21 taun. Cukup mateng lah. Kalau aku kan cowo’ sampai 40 taun juga masih laku.
PD mu itu lho Yok... nggak nguatin... Alias Pekok Dewe. Eh, aku kangen ngobrol sama kamu nih. Kapan ada waktu?
Sekarang juga bisa.
Kalau gitu nanti aku ke tempat kamu yah.
Oke... kamu kesini aja, mbakku udah berangkat kerja jadi aku sendirian sekarang.
Yoh wes, ntar ya aku ke situ. Siapin semua yahhh... Eh ntar dulu, kamu punya apa di situ?

Alamaaakkk... masih nanya lagi. Pikir aja sendiri, apalagi yang bisa disediakan pria bujangan yang hidup sendirian dalam rumahnya selain seperangkat tempat tidur yang sudah siap untuk digunakan.

He-he-he... gemblungmu gak bisa ilang. Wes ya, nanti aku ke tempatmu.
Oke deh my sweety... muachhhhhhhhhh...

Percakapan lewat telepon itu pun akhirnya berakhir.

Jalanan siang itu tidaklah terlalu ramai. Perjalanan ke perumahan Griya Permai seakan panjang dan tak berujung. Terasa jauhhh dan lama. Biasanya mas Nawan langsung menawarkan diri mengantar kalau tau aku akan melakukan perjalanan jauh begini. Tapi sekarang tidak bisa lagi. Sendiri lagi seperti dahulu-dahulu, sebelum ada Putra, sebelum ada mas Nawan dan sebelum aku berubah jadi wanita manja yang tergantung antar dan jemputan dari orang yang selalu menawarkan jasa ikhlasnya yang katanya tidak meminta imbalan apapun.

Cuma Tyo yang tidak berubah, dahulu... sekarang... dan semoga sampai kelak masih seperti itu. Lelaki teregois yang tidak tau malu biarpun saat makan di kantin SGPC Bu Wiryo dibayarin teman wanitanya, dibonceng sepeda motor sama cewek, yang paling sering bilang tidak kalau disuruh antar jemput pacarnya, yang paling tidak mau diminta benerin busi sepeda motor teman meskipun temannya itu wanita. Ini berdasarkan pengalaman pribadiku lho. Jadi entah kalau sama wanita lain... mungkin saja bakalan ‘jaim’… jaga image.

“Eh, kalau sudah pakai motor itu yah minimal urusan bensin dan busi harus ngerti. Mentang-mentang cewe’ maunya manja aja, nggak bisa tuh. Buka sendiri.”
Yah begitu lah dia, lebih banyak ngomelnya meskipun tidak meninggalkan begitu saja temannya yang sedang kesulitan.
Aku kangen dengan caciannya yang mirip umpatan pada musuh bebuyutannya. Aku juga kangen dengan komentar-komentarnya yang mirip dosen yang sedang memberi mata kuliah berbobot 3 sks.

Jauhnya rumah itu, perasaan dulu tidak sejauh ini. Hmm... Mbesi ke timur, sampai perempatan lalu ke utara terus. Tapi dimana perumahannya ya... aduh... kok jadi linglung begini.
Ya ampun...
Wah... ternyata aku lupa jalan ke rumah Tyo



..::BersambunG::..