Thursday, October 07, 2004

EdelwisE

BAGIAN II

Pak A Seng terlihat agak kaget karena keberadaan Nawan di situ. Mungkin dia tidak menyangka ada orang lain di situ. Berdiri dan berjalan mendekatinya lalu menepuk pundaknya.

Nanti berangkat jam berapa?

Setelah ini saya akan langsung berangkat Pak. Terima kasih semuanya.

Pak A Seng tersenyum dan mengajaknya untuk sarapan pagi terlebih dahulu dengan kue² yang telah dibelinya pagi² tadi di pasar. Bapak satu ini benar² rajin, tidurnya belakangan tetapi bangunnya paling pagi.

Jangan sungkan kalau ingin datang kemari.

Iya Pak.

Untuk bisa sampai ke komplek Supadio, harus ditempuh dengan 3 kali berganti angkot. Jam 10:00 Nawan sudah tiba di komplek Lapangan Udara Supadio. Setelah bertanya kepada Provost yang berjaga di pos penjagaan, dia melanjutkan perjalanan ke arah komplek perumahan TNI AU dekat situ.

Bandara Supdio tidak terlalu ramai. Lebih sering terlihat orang-orang berseragam biru-biru lalu-lalang.

Tidak memerlukan waktu yang lama, Nawan sudah berhasil menemukan tempat tinggal kakaknya yang ditugaskan di Pontianak. Dan sejak saat itu dia menumpang hidup di tempat keluarga kakaknya. Selama itu Nawan selalu berganti-ganti pekerjaan dari tukang potong kayu di pabrik gelongongan kayu, sopir di pabrik kayu lapis, pekerja di perkebunan sawit bahkan menjadi tukang ojek.





Meskipun mendapatkan tiket kelas ekonomi yang non shit tetapi ternyata masih ada juga tempat-tempat kosong di dek 2. Entah siapa yang menuntun tetapi kebetulan lagi si bapak bertubuh tambun di ruang tunggu pelabuhan tadi sudah berada di dek itu. Setelah sedikit berbasa-basi dan meletakkan ransel, akhirnya punggung bisa direbahkan dengan santai.

Entah sudah berapa lama KM Leuser meninggalkan pelabuhan Pontianak. Perjalanan kadangkala diselinggi goyangan seperti ayunan saja yang menandakan ada ombak besar di lautan penghubung antara P. Kalimantan dengan P. Jawa.

Hmm... Jawa... sudah 3 tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sana.

Alam pikiran otomatis langsung terbayang pada orang-orang yang tak ditemuinya selama 3 tahun belakangan ini. Teman-teman kuliahnya dulu, teman-teman kostnya dulu, teman-teman gilanya dulu... dan sosok yang pernah disayanginya dulu. Dimana dia sekarang?. Masihkah ingat padanya? Apa yang akan terjadi saat mereka kembali bertatapan?

Hmm... berbaris-baris pertanyaan lain melintas dalam kepala. 32 jam lagi... segala pertanyaan itu akan mendapatkan jawabannya.

Dik... bangun!!! Ayo ambil sarapan dulu.

Goncangan ringan dari bapak tambun cukup mengagetkan dan tersadar kalau matahari sudah tinggi. Sesaat kesadaran belum benar-benar muncul karena 6 nyawa masih berkeliaran di luar. Setelah berganti ke posisi duduk beberapa saat dan berkumpulah ketujuh nyawa, diambilnya sikat gigi dan mengoleskan dengan pasta gigi secukupnya dan mulai ikut antri di kamar mandi yang ada di ujung lorong dek. Selesai menggosok gigi dan cuci muka, kaki melangkah ke dek 3 untuk mengambil jatah makan pagi.

Yah... ikan lagi lauknya. Kata buku dan para pakar kesehatan, ikan laut memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Tetapi peduli amat dengan semua itu, yang penting cacing dalam perut tidak berontak terus. Itu sudah cukup...

Tiga puluh dua jam di atas kapal terasa lebih lama lagi karena dihitung tiap menitnya. Tak sabar rasanya untuk melihat tempat yang sangat dirindukan. Dahulu tidak pernah sadar kalau akan begini rasanya... kerinduan yang muncul begitu pertemuan tinggal sesaat lagi.

Semilir angin lautan menerpa wajah dan mengibarkan sisa ikatan bandana di kepala. Menatap lautan luas yang belum terlihat ujungnya dan sesekali terlihat pulau-pulau kecil di kejauhan dan lumba-lumba memamerkan loncatan-loncatannya.
Hmmm... di lautan sudah beberapa kali terlihat lumba-lumba itu melompat, sepertinya sudah memasuki ke Laut Jawa.

Monday, September 20, 2004

LATIHAN??!!

Sudah tak terhitung lagi berapa kali kusaksikan adegan semacam ini. Entah diulang atau terulang lagi... lagi... dan lagi. Mentari senja yang meredup telah berkali-kali pula menjadi saksi bisu. Dar kulihat menyeringai sehingga menampakkan gigi-gigi yang beberapa telah tanggal. Kuberani bertaruh, itu bukan ekspresi kebahagiaan atau ekspresi yang berkonotasi dengan kesenangan.
Dar menyeringai menahan sakit.
Terbuat dari apa sih otak dan hati Sugi itu. Tak ada sedikitpun rasa iba pada istrinya yang sedang mengandung jabang bayinya.
Ya ampun.
Sesekali kudengar terlontar kata itu dari mulut orang-orang yang menyaksikan adegan mereka itu. Kadang kulirik mereka-mereka itu dan kulihat kedua bola mata mereka mendelik. Entah tertegun... atau terpesona.
Mungkin terpesona akan mahluk ciptaan-Nya yang satu ini. Terpesona akan ketegaan hatinya. Dan terpesona akan kepasrahan Dar menahan dera di sekujur tubuhnya.
Tiga bocah kecil dan kumal mengiring Sugi dan Dar. Kalau ditaksir umurnya 3 tahun, 4 tahun dan satu lagi 6 tahun. Walah… kuhanya bisa ‘gedhek’ kepala. Akan tambah satu lagi kalau jabang bayi di perut Dar nanti sudah keluar.
Aduuuuhhhh... ...
Biyuuung...

Kembali lagi kudengar Dar terpekik menahan sakitnya.
Sugi sepertinya sudah tuli sehingga tidak lagi memperdulikan jeritan Dar. Tetap saja diseretnya tubuh Dar meskipun malah membuat langkahnya tersendat-sendat.
Ketiga bocah kecil yang sedari tadi mengikuti mereka tetap berjalan beriringan di belakang sambil menikmati es lilin dalam genggamannya masing-masing. Seolah-olah pemandangan di depan mata mereka itu adalah bagian rutinitas kehidupan yang tak perlu lagi mendapat perhatian serius. Yah... tepat kalau disebut rutinitas karena hampir setiap hari kejadian itu berlangsung.
Sesekali Sugi menginjak keras kaki-kaki Dar kalau Dar agak menurunkan kecepatan jalannya. Sambil bergumam tidak jelas dan matanya mendelik. Sebuah keluarga yang menakjubkan… pikirku.

Sugi memang terlalu. Entah apa yang akan dialaminya besok, kudengar ibuku bergumam lirih.
Tidak setiap hari aku menghabiskan waktu seharian di kios es ibuku ini. Tapi sepanjang hari ibuku menghabiskan waktunya di sini. Pastilah pemandangan barusan ini sudah menjadi santapan sehari-hari baginya.

Mbak, jangan mau toh kalau diseret-seret begitu. Pernah sesekali ibuku memberi saran saat Dar jajan es untuk anak-anaknya di kios ibuku.
Sudah biasa kok Bu, itu saja jawaban singkat Dar.
Kasihan lho anak-anak, masa sih tiap hari harus melihatnya.
Lama-lama mereka jadi terbiasa Bu.
Tragis memang, akhirnya bocah-bocah kecil yang belum tau apa-apa itu harus menyantap perlakukan kejam ayahnya terhadap ibunya.

Tiga tahun telah berlalu. Ibuku tidak lagi berjualan es di pinggir jalan besar itu lagi. Bapak dapat sedikit rejeki jadi bisa buka warung nasi kecil-kecilan di rumah.
Yah... kurasa itu lebih baguslah dari pada ibu harus sepanjang hari berpanasan dan kulitnya menampung debu dan asap kotor jalanan. Warung kecil di dalam kampung. Tentu saja langganannya ya tetangga kanan kiri dan beberapa anak kuliahan Sekolah tinggi dan akademi di dekat tempat tinggal kami.

Siang ini kuliahku kosong. Gak ada minat ke kampus atau ke kontrakan teman. Hari ini aku ingin di rumah saja. Dari dalam rumah dapat dengan jelas kulihat langganan ibuku yang ingin membeli makan.

Ada satu sosok pembeli yang menarik perhatianku. Bertubuh tambun dan berkulit gelap. Rambut panjang diikat memakai celana jeans panjang, kaos oblong berjaket dan membawa tas punggung.

Sepertinya pernah kukenal sosok itu. Karena penasaran, aku mendekat ke jendela yang berbatasan langsung dengan tempat jualan ibuku. Sekarang kulihat dengan jelas wajahnya. Yah... ternyata benar. Aku mengenal sosok itu. Luka panjang bekas sayatan cutter di pipi kirinya menjadi ciri khasnya.
Sekitar 3 tahun yang lalu sering kulihat dia. Kulihat sering berjalan di sepanjang jalan sekitar kios es ibuku dulu dengan 3 bocah kumal.

Dar... itu si Dar.

Dari balik jendela ini bisa dengan jelas kudengarkan apa yang sedang dibicarakannya dengan ibuku. Sepertinya ibuku juga sempat terkejut melihat penampilannya yang lebih rapi dan bersih dari yang dulu.
Wah Mbak, sudah senang ya sekarang. Makin gemuk dan makmur saja nih,” kudengar ibuku bicara padanya.
Ya lumayan Bu. Sekarang saya lebih tenang dari dulu, ndak punya beban lagi. Cari makan untuk hidup sendiri.
Lho kok sendiri gimana. Anak-anaknya dimana Mbak?
Anak apa Bu, saya ndak punya anak.
Nggak punya gimana Mbak ini. Dulu terakhir saya lihat malah mau nambah satu lagi kok.
Itu kan dulu Bu, sekarang saya sudah hidup sendiri. Anak-anak yang dulu sudah diambil Bapaknya semua.
Oh pantes kalau gitu. Bapaknya tinggal dimana sekarang?
Ya masih di tempat dulu. Tidur di depan garasi biara itu.
Sama anak-anak?
Ya tidak Bu. Anak-anak sudah dijual semua sama bapaknya.

Kulihat raut muka ibuku berubah kaget. Aku pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetku. Kalau aku di depan bergabung dengan mereka, pastilah langsung kelihatan perubahan ekspresiku.

Sugi kalah terus mainnya. Becak sudah dijual dari dulu-dulu. Punyanya kan anak, ya anak-anak dipakai buat bayar utang main bapaknya, lanjut Dar.

Kata-katanya datar. Tidak ada gambaran sedih atau ekspresi lain. Seorang ibu bisa bercerita tentang hilangnya anak²nya dengan begitu datar. Apakah mungkin Dar sudah terlalu lelah bersedih dan benar-benar pasrah dengan hidupnya. Pikiran² itu berputar di kepalaku.
Mbak sekarang kerja dimana? kembali ibuku bertanya.
Itu Bu, di terminal. Jalur Jogja-Solo.
Oh di travel ya. Syukurlah kalau udah dapat pegangan yang lebih mapan.
Bukan travel kok. Itu lho yang sama sopir dan kernet.
Kok sopir dan kernet, memangnya kerja apa Mbak.
Ya sama mereka itu Bu.
Lho, apa harus sama mereka Mbak?
Iya Bu, harus sama siapa lagi. Saya kenalnya ya Cuma sopir dan kernet saja.
Selain mereka apa memang beneran nggak ada Mbak?
Mana laku saya ini Bu, lakunya ya cuma sama mereka itu
Mmmm... Mbak ini kok cari kerjaan begitu to.
Orang seperti saya ini mau kerja apa lagi yang bisa. Ya Cuma itu bisanya.
Trus pakai pengaman apa nggak?

He-he-he pastilah jalan pikiran ibuku sama denganku. Karena kupikir dia jadi wanita tuna susila.

Lah pakai pengaman buat apa?
Nanti kalau hamil gimana coba?
Waaahh... Saya ini bukan ‘lonthe’ Bu,” suara Dar agak memekik.

Ibuku tertegun. Mungkin dia langsung merasa tidak enak sudah berprasangka buruk dulu terhadap Dar. Bagaimana tidak, wanita gelandangan yang sudah berpisah dari suami dan anak-anaknya lalu kemudian kerja di terminal bersama sopir dan kernet. Aku pun sempat berpikir begitu.
Saya ini copet Bu. Dar sedikit berbisik bicaranya.
Mbak... kalau ketangkap piye... kalimat ibuku terlontar dengan ekspresi kaget.
Paling dijambaki dan ditapuki. Sudah biasa itu Bu.
-ditapuki = ditampar-

Dar kemudian berpamitan mau berangkat ke terminal lagi. Jam 3 nanti ada bis yang berangkat ke Solo katanya. Ibuku pun masuk ke dalam rumah dan mendapatiku yang sedang duduk merapat di jendela.

Sugi sudah melatih Dar dengan keras.
Kata ibuku sambil menepuk pundakku dan kemudian berjalan masuk ke dapur.

Friday, August 13, 2004

EdelwisE

Suara mercu suar memecah kesunyian malam yang bertabur beberapa bintang saja karena banyak bintang-bintang yang enggan untuk memunculkan dirinya malam itu. Kapal KM Leuser tujuan pelabuhan Tanjung Mas Semarang baru berangkat pukul 19:30 WIB.

Grrhhzz...

Udara cukup dingin menusuk meskipun berada di kota katulistiwa. Meskipun kulit sudah tertutup sehelai kain nilon bermerek Hammer dan selapis jaket bulu angsa warna orange itu tapi tetap saja tidak mampu menghalau laju sang bayu menusuk pori-pori kulit .

Di sebelah duduk seorang bapak bertumbuh tambun tinggi kira-kira 165cm dengan cigarette menyala di jemari kanannya. Sesaat saling berpandangan mata dan terlihat mata tajamnya penuh selidik seperti menelanjangi seluruh bagian tubuh. Tatapan yang begitu dalam menelusuri ujung sepatu kets butut berwarna biru muda yang sudah mendekati warna coklat hingga bandana hitam yang melilit di kepala.

Si bapak bertubuh tambun berdiri dan menjinjing ransel hijau tua dan sekotak kardus bekas bungkus mie instant yang ditali raffia plastik rangkap-rangkap. Dia semakin mendekat hingga duduk persis di kursi sebelah.

Ke Jawa mana Dik? Suaranya begitu hangat dan sama sekali tak menggambarkan kesangaran yang terlihat dalam mimiknya.

Jogja Pak. Bapak sendiri akan kemana?

Kampung halaman saya Kediri tapi saya singgah dulu di tempat kerabat yang ada di Ambarawa. Rokok Dik...
Si bapak menyodorkan sebungkus rokok kreteknya.

Makasih Pak.

Pulang kampung atau ada perlu lain di Jogja?

Mengikuti kemana kaki melangkah saja Pak. Sekalian mencari sesuap nasi. Kalau di Jogja sudah tidak ada sesuap nasi lagi berarti saja harus berjalan terus.

Wah... Adik ini seorang penggembara ya.
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyum kecil namun sepertinya si bapak sudah paham maksudnya.

Kalau begitu sama, dulu saya juga pengembara. Bahkan baru saja ini saya juga baru pulang dari pengembaraan saya dari Brunei. Sekarang sudah lelah dan ingin kembali ke kampung di desa.

Sungguh tak disangka kalau bapak berperawakan sangar itu ternyata begitu ramah dan bersahabat. Selalu saja ada bahan bicara yang tidak pernah habis dipercakapkan. Obrolan pengisi waktu menunggu diantara mereka berdua terus berlangsung sampai berjam-jam. Tak sadar rokok sebungkus sudah hampir habis dan baru tersadar akan adanya perjalanan lagi setelah terdengar kembali suara terompet kapal yang menandakan KM Leuser tujuan Tanjung Mas Semarang sudah merapat di pelabuhan Pontianak.

Penumpang tidak seramai saat keberangkatan 3 tahun yang lalu.
Tiga tahun yang lalu, hanya berbekal nekat, ditelusurinya jalanan kota Pontianak yang masih asing sama sekali. Berjalan dan terus berjalan mengikuti kemana kaki melangkah.

Tiga tahun yang lalu.. ditelusurinya jalanan kota Pontianak itu. Bangunan dipinggir jalan yang dilaluinya terlihat didominasi ornamen-ornamen berwarna merah dan kuning emas. Tali, pita, lampion dan berbagai macam hiasan berwarna dasar merah tergantung di sana-sini.
Setibanya di jalan Gajah Mada semakin terlihat jelas kemeriahan warna merah dan keemasan. Banyak pedagang kaki lima berjualan beraneka makanan dan minuman ala Cina. Tempat mereka berjualannya terbuat dari kayu ataupun bamboo. Tentu saja pedagang yang berjualan didominasi oleh masyarakat Tionghoa. Sesekali terdengar suara percakapan transaksi diantara penjual dan pembeli dengan bahasa Cina yang sama sekali tak diengerti artinya. Jika diperhatikan, suasana jalanan itu mirip dengan Pecinan dalam film-film barat.

Perayaan Imlek tinggal beberapa hari. Tak aneh jika saat itu kota yang dihuni oleh etnis Tionghoa itu begitu meriah mempersiapkannya.

Langkahnya terhenti di sebuah kedai kopi. Jam sudah menunjukkan pukul 20:30 dan kedai itu tidak terlalu ramai pengunjung. Bapak tua penjaga kedai menghampirinya di kursi pojok yang dipilihnya.

Kopi
Iya... satu.
Bapak itu berjalan kembali ke dalam dan tak berapa lama kemudian kembali datang dengan membawakan pesanannya.

Bukan dari sini ya.
Bukan Pak, saya baru tiba.
Tanpa ada yang meminta, si bapak sudah langsung menarik salah satu kursi di bangku situ lalu kemudian duduk di situ. Wajahnya yang ramah dengan mata sipit yang semakin tidak kelihatan disaat melebarkan senyumnya menyiratkan keramahan pada pribadi yang berada di depannya ini.

Datang dari mana?
Slrruuuppp....
Diminumnya sedikit kopi dalam cangkir yang masih panas karena terlihat uapnya masih banyak mengepul.
Jauh Pak, saya dari Jawa.
Tujuannya mau kemana Dik.
Panggil saja Nawan, nama saja Nawan.
Disebutkannya namanya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah bapak yang duduk didepannya.

A Seng. Jawab si bapak singkat.
Belum tau mau kemana, saya ada teman yang tinggal di daerah Sei Adung. Mungkin saya akan kesana dulu.
Sekarang sudah larut, Sei Adung masih jauh. Sulit mendapatkan transportasi ke sana. Istrirahat dulu saja disini kalau mau.

Nawan sangat terkejut dengan tawaran bapak yang baru saja dikenalnya ini. Bagaimana bisa dia mudah percaya dengan menawarkan tempat istirahat kepada orang asing yang baru ditemuinya dan berbicara belum sampai setengah jam. Dan sepertinya si bapak menangkap gelagat keterkejutannya.

Saya tinggal bertiga dengan 2 pegawai saya. Kalau mau tidur seadanya, tidak masalah kok. Besok pagi-pagi begitu ada angkot lewat, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Sei Adung.

Dan begitulah, malam pertamanya di kota katulistiwa dihabiskannya di sebuah kedai kopi bersama 3 orang asing yang baru ditemuinya. Pak A Seng seorang pekerja keras, dia tinggal sendirian di Pontianak dan bekerja di kedai kopinya ditemani 2 orang pegawainya. Rudi seorang warga Melayu dari Sei Raya dan A Liong tetangganya dari Singkawang. Istri dan anaknya masih tinggal di Singkawang untuk mengurus ladangnya.

Nawan baru bisa tidur menjelang pagi hari karena kedai kopi itu dibuka sepanjang malam. Semakin malam semakin ramai pengunjungnya. Sesekali pak A Seng menghampiri dan bercakap-cakap dengannya.

Kalau orang Cina di Jawa itu kaya-kaya ya.
Kalau disini gembel saja banyak orang Cinanya ya.
Katanya sambil tertawa-tawa sendiri. Nawan pun hanya menanggapi dengan senyuman kecil.
Malam itu pak A Seng banyak bercerita perbedaan orang Tionghoa di Jawa dan di Kalimantan.



Sinar matahari terasa hangat menyentuh pipinya. Dibuka kedua matanya perlahan-lahan. Telinganya menangkap suara gemericik air. Nawan kemudian bangun dan memperhatikan sekelilingnya. Kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah suara gemericik air yang tadi didengarnya. Dia berhenti di pintu belakang dan dilihatnya A Seng sedang mencuci pakaiannya.

He-he-he. Ya begini kalau jauh dari istri. Semua harus dikerjakan sendiri.
Bagaimana tidurnya, bisa nyenyak?

Lumayan Pak.
Jawabnya singkat sambil tangan kanannya menggaruk-garuk dada dan sekitar lehernya dan sesekali tangan kiri mengusap-usap matanya.

Mandi dulu biar lebih segar.
Kata pak A Seng yang terlihat geli memperhatikan tingkah lakunya.
Dengan senyum malu-malu, Nawan kembali berjalan masuk dan mengambil handuk kecilnya yang selalu setia menemaninya kemana pun dia berada. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi yang berada di pojok belakang rumah itu.

Ritual mandinya yang bisa dibilang cepat itu akhirnya selesai juga.

Di saat keluar dari kamar mandi, dia dibuat terkejut karena Rudi sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan mimik muka yang dilipat-lipat dan kedua tangannya mengelus-elus perutnya. Dia pun keluar dari kamar mandi sambil senyum-senyum sendiri.

Kemudian berjalan kembali ke dipan yang dipakainya untuk tidur tadi malam. Saat itu dilihatnya pak A Seng sedang menyalakan Hio dan mengganti buah-buahan dan kue-kue sesajian dengan yang baru. Ditancapkannya Hio itu ditempat semacam guci kecil yang telah ada sisa-sisa Hio yang telah dibakar, setelah sebelumnya mulutnya komat-kamit mengucap doa. Ada tiga patung kecil yang diletakkan dalam rumah-rumahan kecil berwarna merah itu.


..::BersambunG::..

Saturday, August 07, 2004

HIDUP ITU TERBALIK

Halloo...
Terdengar suara pria dari seberang telepon.
Yok... aku lupa jalan ke tempatmu.
Lho Kit, kamu sekarang dimana?
Wartel di samping minimarket perempatan Mbesi.
Ya udah, tunggu di situ. Aku jemput kamu.

Kingkit tidak perlu menunggu terlalu lama di depan toserba samping wartel yang digunakannya tadi karena tak lama kemudian Tyo sudah terlihat berhenti di sebrang jalan di ujung perempatan itu. Perjalanan sampai perumahan Griya Permai tidak sampai memakan waktu 10 menit.

Begitu tiba, mereka memasukkan sepeda motor masing² ke dalam halaman rumah Tyo dan kemudian duduk santai di ruang tamu. Rumah Tyo sepi karena kakak perempuannya sudah berangkat bekerja sedangkan kedua orang tuanya sedang mengunjungi kakaknya yang lain yang baru saja melahirkan.

Kok bisa lupa Kit?
Tyo mulai membuka percakapan.
Aku kan baru sekali datang kemari dan itupun sudah lama sekali. Kamu sih pake acara pindah-pindah rumah segala.

Yah... yang dulu kan belum pas jadi ya perlu digeser-geser lagi biar pas.
Kalau yang begini sih bukan menggeser namanya. Pindah!!!
He-he-he... ya bergeser lah. Dari Jogja barat ke Jogja utara. Geser dikit kan.
Eh diminum Kit, bilang lho kalau kurang manis.

Emang kenapa kalau kurang manis? Kingkit sambil nyruput sirup leci dingin yang barusan dibuatkan oleh Tyo.

Ya gak papa sih, cuma kusuruh bilang aja kok.
Jawab Tyo sekenanya.

So... gimana ceritanya Kit. Kamu ini masih kayak ABG aja. Sekarang bukan masanya lagi iseng-isengan tapi cari pendamping hidup yang beneran. Jangan keasikan main-main terus ah.
Yeee... sapa juga yang main-main, aku serius gini kok. Tapi tali merahnya memang sudah aus. Gara-gara digerogoti tikus-tikus jail tuh, makanya gampang putus.

Ohhh... yaaaaa??!!!
Timpal Tyo yang tak jelas itu suatu bentuk pertanyaan retorik atau sebuah pernyataan ledekan untuk sahabatnya ini.
Kingkit hanya meringis kecil seakan-akan telah tanggap dengan pernyataan tak jelas lelaki ganteng yang duduk di depannya itu. Lebih dari 5 tahun bersama tetapi kenapa tak disadarinya kalau selama ini didekatnya ada lelaki yang begitu menawan dan rupawan.

Hmmm... seandainya aku baru saja berjumpa denganmu sekarang, mengenalmu sekarang, dan tidak duduk bersebelahan saat mengikuti kuliah Operational Research di ruang C2…. Seandainya kita tak pernah berada dalam kondisi terburuk dengan tidak mandi selama dua hari dua malam saat mendaki Slamet. Seandainya kita pun tidak perlu berbasah ria kehujanan dan bertengkar hebat sepanjang sungai demi mencapai sumber mata air di Kalikuning karena tak menemukan jalan kembali yang benar. Seandainya kita juga tak pernah bertengkar dan perang dingin selama 2 jam saat sepeda motorku harus turun mesin karena tanjakan di Selo Boyolali. Dan seandainya... aahh... terlalu banyak yang terjadi. Seandainya itu semua tak terjadi pada kita.

Kupasti akan bernasib sama seperti gadis-gadis yang rela berpanasan di sudut halaman belakang kampus dekat tempat parkir hanya supaya terlihat olehmu saat kamu akan pulang. Atau gadis-gadis yang berakting bagai peminat buku-buku teknologi saat pameran buku di Boulevard ataupun plasa lantai 2 itu supaya bisa mendengarkan promosi yang harus kau lakukan pada pengunjung di stan bukumu. Atau gadis-gadis yang rela mengorbankan puluhan bahkan ratusan pulsa per minggu agar pesannya masuk ke ponselmu.


Ya udah kalau gitu.. pokoknya ingat yah... life must go on!!! Suara Tyo membuyarkan hayalan di kepalanya.
Tyo meraih gitar di ujung kursi panjang itu dan mulai memainkan jemarinya di atas senar dawai. Suara senandungnya pelan tetapi cukup menciptakan suasana menyenangkan di siang itu. Petikannya halus... lembut... dan indah... menerbangkan angan ke saat-saat indah bersama.

Hmm... bersama siapa yah (tidak ada yg tau karena hanya mereka sendirilah yang bisa tau isi di dalam kepalanya sendiri).
Sambil mendengarkan petikan dawai dan senandung Tyo, Kingkit sesekali ikut bersenandung ringan.
Tyo tak jauh berbeda dengan Kingkit, kehilangan mawar yang sangat disayanginya. Mawar yang dengan susah payah dipetiknya. Mawar yang telah disimpan dan dijaganya... hilang dan entah dimana sekarang.

Tapi itulah dia... tak pernah wajahnya terlihat seperti orang yang terluka. Tak pernah kelihatan seperti orang yang sedang sakit. Meskipun jauh di dalam sana, luka yang mendera cukup besar dan dalam. Pastilah ngilu sekali. Walau tak pernah dia tunjukkan.
Dia terlihat sangat tegar dan kuat. Tegas dan pasti!!! Hitam dan Putih!!! Take it or leave it!!!

Beberapa saat kemudian kebersamaan mereka berdua dipecahkan suara yang cukup keras.
Diiiiiiiiinnnnnnnnnnn.........
Yah... tak salah lagi itu suara klakson mobil yang sudah lama tidak mereka dengar lagi. Itu klaksonnya si gembul... Ardana.

Sore bro !!! Ardana langsung masuk tanpa menunggu aba-aba dari tuan rumah untuk masuk dan mengambil sebatang rokok di meja ruang tamu itu. Kepulan asap rokoknya langsung memenuhi ruangan seperti panggung pentas seni yang mengepulkan asap untuk memeriahkan suasana. Heran anak satu ini, kalau merokok selalu saja asapnya bisa keluar paling banyak dibanding dengan orang lain.

Dari mana Mbul?
Dari bawah... nyonya besar minta diantar cream bath.
Lho kok ditinggal. Gimana kalau dapat tuan besar baru?
Ah... tak mungkin itu.
Jangan yakin dulu Mbul. Tyo langsung menyumbang suaranya.
Dalam sejarah cerita itu, tidak pernah ada kejadian Dewi Sinta akhirnya menikah dengan Rahwana. Sinta itu jodohnya sama Rama. Tyo sambil menepuk dadanya.

Yah... kecuali sudah ada yang membuat cerita lanjutan atau sekuel terbarunya sih.

Wah... jangan gitu Bro -Protes Ardana yang tentu saja tau mau begitu saja kalah dengan Tyo- Anda ini bisa saja menang tampang kalau dibanding saya. Tetapi soal asmara... saya berani membanggakan diri lebih dari pada Anda.

Ardana dengan penuh keyakinan dan kebanggaan yang teramat sangat ditonjolkannya tak mau mengalah pada Tyo.
Mereka bertiga pun akhirnya hanyut dalam pertikaian sengit yang menguji kemampuan verbalnya untuk saling menjatuhkan lawan bicara. Satupun tidak ada yang mau mengalah dalam membanggakan diri masing-masing. Yah... suasana yang sudah lama tidak mereka rasakan sejak para dedengkot kampus ini mengambil sikap untuk mundur sejenak dari rimba persilatan... di kampus.
-Wedew... kayak cerita Misteri Gunung Merapi saja-

Sekarang bak pertapa-pertapa yang semedi lama di pesanggrahannya masing-masing, para dedengkot ini kembali turun gunung dan memutuskan untuk kembali meramaikan dunia persilatan.
Memang belum lengkap berkumpul. Tetapi cukup sebagai pengantar cerita yang dapat menggambarkan serunya rimba persilatan nantinya begitu para dedengkot yang lain juga turut bermunculan. Beberapa dedengkot yang sempat beralih fungsi menjadi dahyang² masih berada dalam perjalanan turun gunung.



Kupandangi layar monitor di depanku. Terasa dingin karena AC warnet yang terletak persis di atasku dinyalakan dengan frekwensi pendingin yang tinggi.
Beberapa e-Mail baru masuk, beberapa pesan masuk dan kiriman foto dari kawan-kawan sekolah menengah dulu yang kemarin habis diwisuda. Bahkan beberapa sudah mendapat gelar strata 2.
Sudah 6 tahun. Tinggal menunggu wisuda saja. Mengisi waktu tunggu dengan menulis skripsi. Alasan pembenaran diri bagi mahasiswa-mahasiswa yang sudah atau pun hampir menyandang gelar MA. Disayangi dosen… alasan lainnya.
Penyesalan tinggal penyesalan. Selalu saja hadirnya terlambat. Tapi sebuah pembenaran diri lagi, yaaaaaaaah... lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Begitulah yang sering keluar dari bibir-bibir itu saat protes mencerca mereka.
Hhmmm... ilmuku sudah cukup di sini. Sudah sama dengan rekan-rekan se-lefting. Melalui jalan dan alur yang sama pula. Sudah saatnya menimba ilmu ke tempat yang lain. Tetapi kenapa kumasih disini??!! Terkunci disini dan belum bisa keluar.

Ohh... tidak juga. Sebenarnya bisa saja aku keluar. Aku bisa jebol engsel jendela atau pintu. Bisa juga dengan memanjat dinding. Atau bisa juga memanjat atap dan membukanya dengan sedikit paksa. Tapi perlukan harus seperti itu???
Di sisi lain aku tak pernah merasa ingin mengenakan Toga hitam seperti mereka. Aku juga tak menginginkan selembar kertas bertulisan tebal --L U L U S--. Aku hanya ingin segera pindah tempat. Belajar. Berkembang. Melanjutkan hidup.
Tapi bagaimana dengan orang tuaku. Apa mereka tidak boleh menuntut sedikit hak atas kewajiban-kewajiban yang telah mereka laksanakan. Sebuah hak yang sebenarnya sangat sederhana. Mereka hanya ingin bisa tersenyum bangga saat melihat buah hatinya berpakaian hitam dan bertoga berjalan di atas mimbar dan menerima ijasahnya dalam gulungan berpita.
Ada e-mail baru lagi rupanya. Dari your_love@softmail.net. Apalagi yang dikirimkannya ya. Dia selalu mengirimiku email yang panjang seperti sebuah renungan. Atau sebenarnya lebih sering seperti hasil paste dari surat kabar.
Isi e-Mail ini tidak terlalu panjang. Seperti sebuah syair ... hmmm... atau sebenarnya lebih mirip seperti puisi. Subjeknya menggelitik untuk dibaca.

KEHIDUPAN ITU TERBALIK

Hidup itu sulit.
Hidup itu menghabiskan banyak waktu, semua akhir minggu
Dan apa yang kau dapatkan pada akhirnya?
..... kematian, hadiah hebat.

Kurasa daur kehidupan itu terbalik.
Kau mestinya mati dulu, singkirkan dulu hal itu.
Lalu kau tingal dua puluh tahun di rumah jompo.
Kau diusir kalau sudah terlalu muda,
Kau mendapatkan jam emas , lalu bekerja.
Kau bekerja empat puluh tahun sampai kau cukup muda
Untuk menikmati pensiun.
Kau kuliah, kau berpesta sampai kau siap untuk SMU,
Menjadi remaja, kau bermain, kau tak punya tanggung jawab.
Kau menjadi anak kecil, kau kembali ke rahim,
Kau melewatkan sembilan bulan terakhirmu melayang-layang
Dan kau berakhir sebagai sinar di mata seseorang
note : Norman Glass diserahkan oleh Tony D Angelo


Kututup mail box ku sambil tersenyum mengingat isi email itu. Hidup ini terbalik. Lalu... bagaimana caranya membalik untuk mendapatkan jalur hidup yang benar?!

Wednesday, August 04, 2004

KEHIDUPAN ITU TERBALIK

Pasrah... dengan menguak segumpal harapan.
Menatap langit b’hias surya pagi.
Membawa angan ‘tuk menyadari
Kekuatan maha dasyat di baliknya.
Terkuat diantara semua yang kuat
Teranggun diantara segala yang anggun
Terlembut diantara semua yang lembut.
Sungguh... begitu manis dan indah
Berhias taburan kosmik-kosmik semesta alam
Semakin memberi sentuhan hidup di jiwa yang baru saja lahir.

Kumenangis di bawah kebesaranMu
Seolah... jiwa kotor yang sedang menerima hukuman berat.
Masuk ke dalam lorong waktu panjang...
Dan otak pun terstimulan ‘tuk menangkap semua.
Laksana bermeter-meter rol-rol film yang sedang berputar
Menayangkan sebuah cerita...
dan...
AKU lah tokoh utamanya.
Rol-rol itu berhenti berputar dengan ending yang memukau.

Harum...
Indah...
Dan sepertinya meriah
Banyak yang datang dan memberi salam.
Banyak rangkaian-rangkaian bunga menghiasi sekelilingku.
Seluruh keluargaku berkumpul, bahkan hadir orang-rang yang kusayangi maupun yang ‘pernah’ kusayangi.
Bukan hanya itu, hadir juga orang yang pernah kusakiti... dan mengucap salam
Ending yang hebat...
Kisah besar...
Kisah di hari ‘PEMAKAMAN’ ku.

Rol-rol kembali berputar dengan cepat.
Melemparku kembali ke alam kosmik
Jiwaku bereinkarnasi... 'tuk kembali menorah cerita, kembali memproduksi film baru dalam gulungan rol-rol baru
Dan tetap...
AKU lah tokoh utamanya
(wiek’s last July 2003)


Halooo
Terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang telepon.
Pagi Mbak, bisa bicara dengan Tyo?
Ooo bisa, ini dari siapa ya?
Kembali lagi suara lembut itu memberikan respon.
Saras
Sebuah jawaban singkat terdengar.
Ooo Saras. Kemana saja kamu, kok lama gak ada kabarnya?
Ada kok Mbak, sedang ngurus penelitian saja. Mbak gak masuk nih?
Masuk bentar lagi Ras. Tunggu bentar yah...
Yooooooo... telpooonnn, Suara mbak Veti sampai kedengaran dari seberang telepon.

Halo
TIdak begitu lama kemudian sudah berganti dengan suara tenornya Tyo.
Aku nih, Saras.
Valentina Artririn Saraswati?
Iyalahh, memang ada berapa sih Saras yang kau kenal?!
Suaranya sebenarnya tidaklah bernada seperti sebuah pertanyaan tetapi lebih seperti ungkapan sebal.

Ha-ha-ha
Tyo malah tertawa seakan puas dengan gurauannya yang sebenarnya terasa garing ditambah garingnya tenggorokan karena panas menyengat siang itu.
Kenapa bangkit dari kubur? Sudah puas ya semedi disono?
Iya nih Yok, manusia udah makin bejat. Bikin dunia makin panas aja, sampe dunia bawah tanah pun terasa makin panas. Gerah banget makanya aku keluar, dan sekarang kamu lah yang bakal kujadikan tumbal pertamaku

Bolehhh... silahkan ambil semua dariku. Apa sih yang tidak untuk my sweet friend yang mungil, imut dan makin mirip jeruk Kingkit ini.

Jeruk Kingkit semacam tanaman perdu dengan buah dan aroma menyerupai jeruk kecil dengan ukuran terbesar hanya sebesar mainan gundu/kelereng. Teman-temannya tidak ada yang mengetahui nama pasti tanaman itu, dan Sekar lah yang pertama kali menyebutnya jeruk Kingkit karena di masyarakat memang dikenal dengan nama jeruk Kingkit. Dari situlah panggilan Kingkit mulai melekat untuk Sekar yang memang dari sananya telah mendapat kromosom tubuh mungil yang kemungkinan besar berasal dari ibunya.

Sudah turun gunung belum?
Of couse my sweety. Malas bikin surat pengantar fakultas lagi jadi gak boleh telat lagi.
Masih ikut KRS ya Yok?
Masih nih Kit, kamu?
Masih ikut juga. Kamu tau jadwalnya nggak?
Yang pasti sih sekarang belum mulai, sekarang yang SP aja masih pada ujian. Jadwal untuk kuliah regular belum keluar. Baru kemarin aku ke kampus.
Hmmm...hari ini ngampus nggak?
Nggak nih, mau ngurus buat lomba 17-an ntar. Kamu ikut lombanya ya. Nanti aku daftarin bareng sama anak-anak smp, masih cocok kok Kit.
Hehehe makasih Yok, kamu baik deh. Tapi aku udah daftar balap karung sama anak-anak SD, katanya SD pun juga masih cocok kok.

Ha-ha-ha. Makin kacooo loe. Eh kemana aja kok gak pernah kelihatan, kangmas kangen nih. Khawatir kalau-kalau diajeng sudah ‘rabi’ alias dah nikah.
Maunya sih gitu Yok, tapi batal. Nggak enak nglancangi kamu jadi aku nunggu kamu dulu, baru nyusul nanti.
Walaahhh... bisa jadi perawan tua loe, kamu kan cewe’ trus sudah 21 taun. Cukup mateng lah. Kalau aku kan cowo’ sampai 40 taun juga masih laku.
PD mu itu lho Yok... nggak nguatin... Alias Pekok Dewe. Eh, aku kangen ngobrol sama kamu nih. Kapan ada waktu?
Sekarang juga bisa.
Kalau gitu nanti aku ke tempat kamu yah.
Oke... kamu kesini aja, mbakku udah berangkat kerja jadi aku sendirian sekarang.
Yoh wes, ntar ya aku ke situ. Siapin semua yahhh... Eh ntar dulu, kamu punya apa di situ?

Alamaaakkk... masih nanya lagi. Pikir aja sendiri, apalagi yang bisa disediakan pria bujangan yang hidup sendirian dalam rumahnya selain seperangkat tempat tidur yang sudah siap untuk digunakan.

He-he-he... gemblungmu gak bisa ilang. Wes ya, nanti aku ke tempatmu.
Oke deh my sweety... muachhhhhhhhhh...

Percakapan lewat telepon itu pun akhirnya berakhir.

Jalanan siang itu tidaklah terlalu ramai. Perjalanan ke perumahan Griya Permai seakan panjang dan tak berujung. Terasa jauhhh dan lama. Biasanya mas Nawan langsung menawarkan diri mengantar kalau tau aku akan melakukan perjalanan jauh begini. Tapi sekarang tidak bisa lagi. Sendiri lagi seperti dahulu-dahulu, sebelum ada Putra, sebelum ada mas Nawan dan sebelum aku berubah jadi wanita manja yang tergantung antar dan jemputan dari orang yang selalu menawarkan jasa ikhlasnya yang katanya tidak meminta imbalan apapun.

Cuma Tyo yang tidak berubah, dahulu... sekarang... dan semoga sampai kelak masih seperti itu. Lelaki teregois yang tidak tau malu biarpun saat makan di kantin SGPC Bu Wiryo dibayarin teman wanitanya, dibonceng sepeda motor sama cewek, yang paling sering bilang tidak kalau disuruh antar jemput pacarnya, yang paling tidak mau diminta benerin busi sepeda motor teman meskipun temannya itu wanita. Ini berdasarkan pengalaman pribadiku lho. Jadi entah kalau sama wanita lain... mungkin saja bakalan ‘jaim’… jaga image.

“Eh, kalau sudah pakai motor itu yah minimal urusan bensin dan busi harus ngerti. Mentang-mentang cewe’ maunya manja aja, nggak bisa tuh. Buka sendiri.”
Yah begitu lah dia, lebih banyak ngomelnya meskipun tidak meninggalkan begitu saja temannya yang sedang kesulitan.
Aku kangen dengan caciannya yang mirip umpatan pada musuh bebuyutannya. Aku juga kangen dengan komentar-komentarnya yang mirip dosen yang sedang memberi mata kuliah berbobot 3 sks.

Jauhnya rumah itu, perasaan dulu tidak sejauh ini. Hmm... Mbesi ke timur, sampai perempatan lalu ke utara terus. Tapi dimana perumahannya ya... aduh... kok jadi linglung begini.
Ya ampun...
Wah... ternyata aku lupa jalan ke rumah Tyo



..::BersambunG::..

Friday, July 30, 2004

BAYANGAN TAK KAN DAPAT DIGENGGAM

(Part 3)

Dorrrr...
Siang-siang kok ngalamun.

Sedikit tersentak. Dengan kedua ujung bibir sedikit terangkat ke atas beberapa mili dan menunjukkan sebagian barisan gigi yang sudah tercemar warna kecoklatan karena ganasnya serangan nikotin dari kretek yang biasa dihisapnya, Nawan duduk bersandar tembok kamar sebelah tempat tidurnya. Kingkit pun lalu duduk di sebelahnya setelah puas mendapatkan gelombang Swaragama yang sebelumnya diutak-atiknya tidak pas-pas juga.

Udah sembuh sakitnya Mas?

Masih Kit, malah tambah sakit.

Periksa aja lah. Mumpung masih sore lho. Jadi antrinya gak terlalu panjang. Kuantar yuk?!

Gak usah, pusingku ini cuma karena takut saja.

Takut apa?

Sesaat suasanya menjadi hening dan hanya terdengar syair Eternal Flame yang terlantun keluar dari radio di hadapan mereka. Suara yang menghanyutkan seakan-akan menghipnotis mereka berdua sehingga tercipta keheningan yang panjang.

Takut.
Takut membuat kamu sakit.

Maksud Mas??? Kingkit benar-benar bingung dan dengan mimik muka innocent-nya menatap Nawan.

Hmm...

--Terdiam lagi agak lama-- Aku kadang masih sms-an sama Amitha.

Maaf Kit...

Nawan memberanikan diri menatap mata bulat Kingkit lalu wajahnya lunglai dan tertunduk pasrah. Seolah-olah langit seisinya akan jatuh menimpanya
--wah sepertinya terlalu hiperbol yah... hehehe…--

Ohh...

Hanya desahan kecil yang bisa keluar tanpa disusul rangkaian kata yang lain karena memang Kingkit sudah bisa mengetahui apa yang terjadi tanpa menunggu Nawan melanjutkan ceritanya.

Jadi... maunya Mas sekarang gimana?

Mauku cuma satu...
Nawan mulai berani mendongakkan wajahnya dengan perlahan dan menatap sayu ke kedua bola mata Kingkit.

Jangan sampai kamu semakin sakit Kit.

Seakan-akan tulang leher tidak sanggup menopang kepala Nawan lagi dan kembali lagi terkulai lemas kehilangan daya.

Sayangnya...
Aku sudah terlanjur sakit Mas.

Aku tahu itu Sayang.

Suasana kembali tenang... diam... sunyi....
Tanpa ada suara selain penyiar radio yang masih cuap-cuap dan sesekali meladeni telepon masuk. Tanpa ada gerakan sedikitpun… dan tidak saling bertatapan lagi. Mereka berdua hanya terdiam seperti patung dalam posisi duduknya masing-masing.

Mas, aku pulang dulu yah. Sudah hampir gelap.

Suara pelan Kingkit memecah kesunyian dan kemudian bergegas mengambil tas yang tadi dilemparkannya ke kasur.

Iya.
Hati-hati di jalan ya Kit.



.


(Part 4 - The End)

Dinginnya malam Jogja tidak hanya dirasakan di atas saja
--'atas' itu adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut daerah dari jalan kaliurang terus ke utara sampai lokasi wisata Kaliurang--

Tetapi Jogja bagian tengah juga merasa dingin yang serupa.
Udara tetap terasa dingin meskipun sudah duduk berdesak-desakan di dalam kamar Uli yang luasnya hanya 3x4 meter itu.
Player sudah memutar CD sampai ke kepingan kedua, tetapi cerita The Cores itu belum juga ditangkap isinya.

Gantiii aja deh Miiiin
Gak dooong dari tadi!!!
Suara melengking dan manja Ujuk terdengar memprotes tontonan di depan mereka itu.

Film ini memang untuk orang cerdas saja, orang tulalit macam kalian mana bisa nangkap isinya, sela Hermin.

Beh... cam betol aja pon.
Klean tu’ berisik semua dari tadi, jadi tak jelas isinya. Coba klean lihat si Kingkit, tak ada gangguan sikit pun dari dia.
Bi quaaiitttt!!!
Mantap sekali kata-kata yang keluar dari mulut May.

Huuuu...
Serempak mereka protes.

Kamunya aja juga berisik Mbakyuuu.

Belagu kamu May.

Beh... masih saja ko protes kata² awak.

Sudah lah, kalau mo diganti ya ganti aja. Gitu aja ribut.

Dah ganti gih sonooo...
Uli sambil melempar bantalnya ke arah Hermin sehingga membuat dia tersentak kaget dan terpaksa membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot ke bawah dengan ujung jari telunjuk kanannya.

Li, gwe balik ke kamar dulu yah.
Everi badi... gwe masuk dulu ya. Ngantuk nih.

Yaaaahhh Kit
--sepertinya ada nada kecewa dari kata itu--

Tidur aja sini sekalian, ntar kita-kita ini mo ngacak-acak kamar Uli.

Ikutan aja lah.

Hehehe... tuw lihat muka Uli dah kusut.
Awas kalau besok dia balas dendam trus masukin bom molotop di kamar-kamar kalian, baru tau rasa.

Dah ah... ngamar dulu ya semua...

Kingkit berjalan keluar kamar Uli tanpa mempedulikan suara teman-temannya yang bersaut-sautan mencoba menggoyahkan keinginannya untuk kembali ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi di belakang.

Setelah keluar dari kamar mandi dan mematikan lampu-lampu kecil sekitar dapur dan kamar mandi dia pun melangkah menuju kamarnya.

Ehm...
Duh seriusnya euy.

Tiba-tiba saja wajah Uli sudah muncul di atas rak kecil di samping CPUnya. Ternyata tadi Kingkit lupa menutup pintu kamarnya sehingga tidak menyadari kalau Uli sudah masuk ke dalam kamarnya.

Katanya ngantuk, kok komputer masih nyala?

Tanggung nih Li, tinggal dikit lagi.
Eh... kamar kok ditinggal sih, ancur beneran lho ntar.

Biar deh, sekali-sekali biar mereka puas ngacak-acaknya. Lagian besok aku emang ada rencana mo renovasi dan merubah lay out nya lagi kok.

Celoteh Uli sambil mengaduk Mug berisi air panas dan coffeemix yang ditambahin sedikit gula pasir karena dia tidak pernah merasa pas kalau minuman instannya tidak ditambah gula pasir 1 sendok teh lagi.

Oww...
Suasana menjadi hening sesaat.

Slluurrppp...
Mencoba rasa manis kopinya sudah pas atau belum.
Hmm...
Desahnya sebagai tanda sepertinya sudah merasa puas dengan manis coffemix-nya karena terlihat ada senyum kecil muncul dari bibir Uli.

Jadi beneran nih kamu mau ngelaju? Tinggal dikit kan Non, selesain aja sekalian di sini, kan tanggung.
--ngelaju = istilah pulang–pergi langsung dari rumah, biasanya untuk penjalanan jarak yang agak jauh (luar kota)--

Gimana ya, udah gak ada lagi alasan untuk tetap disini. Lagian duitnya bisa dialokasikan untuk yg lain misalnya buat ngopy draft. Lagian tinggal olah data aja kok. Nggak sibuk cari-cari data lagi.

Yahh...
Sepi dong ntar kalau kamu beneran pergi Kit.

Gak lah, mereka yang di kamarmu itu yang jadi tukang bikin ributnya. Kalau aku kan anak cool, calm meski kadang masih kurang confidence...
Tapi tetap tenang hehehehe... kalau tidur cihh.

Huuu... ngorok gitu aja ngaku pendiam, apanya yang tenang...
Sambil mencubit pinggang Kingkit yang memang saraf-sarafnya lumayan peka dibandingkan bagian tubuh lainnya.

Aww...
Yang penting aku kan gak dengar suara ngorokku.

Loe nggak denger... tetangga tuh yang pada tutup kuping.

Hehehe... kan bisa jadi irama pengantar tidur kalian.

Dasart loe, ya udah terusin gih, aku mo ngawasin trio kwek kwek itu. Bisa-bisa Bu Marbun manggil polisi lagi.

Bu Marbun memang tetangga tersewot di situ. Anak-anak muda yang sedang ronda di pos ronda di depan rumahnya pernah suatu malam meronda sambil bermain gitar. Karena merasa terganggu maka dengan respon proaktif (beliau sendiri yang menyatakan memiliki respon proaktif ini) yang selalu dibangga-banggakannya, Bu Marbun memanggil polisi dan melaporkan anak-anak muda itu dengan laporan mengganggu ketenangan umum. Kontan saja polisi yang datang malam itu hanya bisa cengar-cengir setelah tiba dan melihat TKP.

Waktu terus saja berjalan sampai tak terasa jarum pendek jam dinding telah melewati angka 1 lagi. Ternyata sudah berganti hari. Layar komputer belum dimatikan juga.

Hmm... akhirnya selesai juga.
Semua sudah selesai di save.
Close saja ah.

Setelah saving dan closing semua program yang tadi dibuka, dengan gerakan refleks namun santai, tangan telah menggerakkan dan mengarahkan cursor mouse ke sebuah icon di desktop. Icon kecil bergambar snoppy biru dengan susunan huruf membentuk kata

D-H-I-A.

Hmm... Dhia. Sudah hampir 4 bulan tidak pernah kukunjungi lagi.
Tanggal terakhir jatuh di bulan Maret 2003. Bulan menyakitkan dan penegas bagi hubunganku dengan Putra. Dia masih saja mencintai kekasih lamanya.
Sakit... sangat sakit.
Saat dia begitu dekat denganku, kulit kami saling bersentuhan, nafas kami seolah-olah menyatu dan tatapan mata terasa sangat begitu dekat. Ternyata hanyalah sebuah ilusi bak fatamorgana yang menipu pandangan di bawah terik sang surya.
Dia tidak benar-benar ada, jiwanya menghilang, pikirannya menghilang, dan hatinya pun ikut serta menghilang.

Saat itu kubodohi diriku sendiri, dengan berpura-pura dia ada. Berbuat dan berpikir seolah-olah dia nyata dan hadir untukku.
Namun akhirnya... sakit.
Hanya sakit yang terasa, karena dia bukan untukku meskipun tak mungkin juga dia bisa hadir untuknya. Kami semua merasakan sakit yang sama karena kehilangan. Sakit dalam mimpi buruk tetapi tetap tak mau segera terjaga dari mimpi buruk itu.

Hmmm...
Ingin menyapa Dhia lagi.

Dearest Dhia,

AB 08072003, tengah malam dingin di tengah kota Jogja.

Empat bulan setelah kurasakan sakit yang memilukan itu, seolah-olah waktu kembali berputar ke belakang. Sepertinya portal pintu waktu kembali dibukakan untukku. Kupikir aku bisa kembali dan menambal kebocoran akibat lubang-lubang di masa lalu itu. Tetapi aku salah Dhia, aku tidak sanggup menutup lubang itu sendirian. Bahkan malah kubuat lubang yang lebih besar. Seluruh tubuh ini menjadi lemah dan semakin tak berdaya Dhia. Bukan hanya karena lubang ataupun paku-paku yang menancapinya, tetapi karena AKU...

Karena si A K U ini yang terlalu lemah untuk bangkit berdiri di atas kedua kaki sendiri. Melangkah di jalan yang benar. Justru lebih bodohnya lagi karena kulalui jalan yang sama yang pernah membuatku terperosok ke lubang yang sama.
Bayangan itu terasa sangat nyata... tapi sayang... bayangan itu tak kan pernah dapat digenggam. Hanya bisa dilihat dengan indera dan dirasakan dengan jiwa. Tak bisa juga diusir pergi.

Kisahku dan Putra seolah terulang kembali. Kenapa penulis naskah skenarionya tidak merubah alur ceritanya. Kenapa tidak membuat sekuelnya saja tetapi malahan memplagiat kisah itu. Kenapa harus sama seperti itu??? Apa tidak bosan dengan jalan cerita yang monoton tapi membuat pilu. Aku tidak tau Dhia, kapan portal lorong waktu akan menutup dan melemparku ke alam kosmik yang benar. Sehingga bisa kulanjutkan kembali langkahku ke depan.

Dhia... tahukah kamu kalau Tuhan benar-benar mengabulkan permohonanku. Saat aku minta keberanian, Dia memberiku kesempatan agar bisa kugunakan. Saat aku minta cinta dan kasih sayang, Dia memberiku orang-orang yang terluka hatinya supaya aku bisa berbagi kasih dan sayang dengannya.

Permohonanku dikabulkan.
Tapi Dhia... kenapa aku masih juga merasa sakit??? Aku ingin sembuh dari sakit ini tapi bagaimana caranya Dhia. Kamu tau jawabannya Dhia? Beritahu aku jawabannya Dhia, tolong beri aku jawaban!!!


.

Thursday, July 29, 2004

BAYANGAN TAK KAN DAPAT DIGENGGAM

(Part 2)

Nawan akhirnya selesai juga ngutak-atik pic Gay yang biarpun sudah ditambah warna, di-zoom, di potong sana-sini dan diputar-putar posisinya tetap saja kelihatan tampang kusutnya.

Dilihat dari mimik mukanya, Nawan tidak merasa cukup puas dengan hasil karyanya.

Kingkit kemudian ganti mengambil alih posisi.
Memasukkan disket ke drive A, run ke Microsoft Word dan membuka file ‘Pembahasan’.

Aku harus revisi lagi, pusing nih.
Reviiisiii terus... sampai mabok revisi aku.(Gumam Kingkit)

Nawan diam seolah-olah tidak peduli dengan gadis mungil di depannya itu.
Masih saja tanganya mengelus-elus si kucing lagi yang masih tiduran manis di sudut kasur nya.
Seolah-olah membawa alam pikirannya ke alam lain dimana di situ dia adalah seorang kesatria dengan jubah kebesarannya dan menenteng pedang besar di kiri pinggulnya.
Di depannya berdiri seorang putri cantik bergaun hijau dengan senyum manis tersungging di bibirnya yang mungil.

Didekatinya putri itu dan semakin dekat... semakin dekat... semakin lebih dekat lagi... dan...
Oh...
Sang putri itu malahan berlari makin menjauh sambil bergandengan tangan dengan seorang ksatria lain yang entah dari mana datangnya. Dari mana datangnya tak disadarinya karena terlalu terpana dengan sang putri.

Huh !!!
Sialan!!! Umpatnya tiba-tiba.

Kenapa Mas?
Kingkit tersentak dan melirik ke arahnya dengan wajah tetap menghadap layar komputer dan jari-jari lentiknya menari di atas key board yang huruf-hurufnya nampak sudah tinggal separo-separo.

Eh... nggak pa`pa.
Ini kucing gila, udah dielus-elus malah mo nggigit.

Dibilangin juga apa... kucing itu karnivora. Tetep aja bakal ngincer daging kalau ada daging. Kamu sih dibilangin malah ngeyel.
Komentar Kingkit ketus, karena memang pada dasarnya dia tidak terlalu menyukai binatang berbulu itu di dekatnya.

Wah, jangan salah Kit. Kalau dilatih terus, bisa jadi kaki tangan yang lebih bisa dipercaya dari manusia.

Up to you deh.
Kalau belum cuil dagingmu digigit, tetep aja kamu bakal bilang itu binatang manis, lembut, penurut dan tetek bengeknya.

Aduuuuuh....
Gimana nih Mas , belum sempat di save udah hang.
Uhhh... masa harus ngulang lagi.

Hhehehehe... sukurin.
Makanya kalau punya kerjaan itu dikerjakan dengan serius. Nggak usah ngurusin yang lain.

Dihh... kamu tuh yang berisik. Gangguin konsentrasiku aja.
Dah ah... diem dulu kamu.

Bukannya diam, Nawan malah dengan jailnya menggelitik perut dan rambut Kingkit. Sehingga tak ayal lagi tertundalah lagi revisi yang harus dibuat Kingkit.
Mereka berdua pun akhirnya asik bercanda di sore hari itu





Malam terasa semakin dingin saja. Angin terasa makin dalam menusuk kulit menembus jaringan-jaringan tubuh sampai terasa di organ-organ dalam.

Dingin... teramat dingin.
Masih saja putri bergaun biru itu selalu hadir dalam angannya.
Amitha... kenapa Amitha terus yang hadir di kepalanya.
Bukannya Kingkit.
Seharusnya Kingkit lah yang menjadi putri itu, bukan Amitha.
Ohh Amitha... tolong pergi jauh... sejauh mungkin sampai tak bisa kugapai lagi.

Tapi tidak!!!
Tidak!!!
Aku tidak sanggup kehilanganmu.
Amitha... kenapa harus kau katakan kalau kau belum bahagia dengan suamimu. Kenapa sayang? Tidakkah kau sadar cintaku belum hilang, cintaku belum pudar, cintaku belum sirna. Dan...kenapa kamu pun masih mencintaiku, itu salah besar sayang. Kita semua tau itu salah.

Sambil merebahkan diri terlentang di kasurnya yang selama ini selalu setia menampung tubuhnya. Nawan kembali membuka pesan masuk di ponselnya. Membaca kembali sms Amitha yang terakhir yang mengatakan malam itu dia menangis karena habis bertengkar dengan suaminya hanya karena suaminya cemburu padanya.

♫“Haruskah merasa salah di diriku, bila mencintaimu yang tlah berdua. Seolah aku perawan cinta yang haus kasih. ♪Kuhanya mencoba bermain api, tapi akhirnya sulit aku padamkan. ♫Hati kecilku… mengatakan ini harus diakhiri”♫

Rosa sialan, ngapain nyanyi di saat seperti ini.
Aku bukan perawan tau!!!
Aku ini pria sejati.

Dengan ujung jempol kaki kirinya Nawan mematikan radio yang kebetulan sekali sedang melantunkan tembang Perawan Cinta nya Rosa.
Nawan kembali menatap langit-langit di kamarnya.

Yah...
Benar...
Ini memang harus diakhiri. Harus!!! Harus!!!
Bukan Amitha, bukan dia... aku tak kan sanggup untuk tidak memikirkannya.
Kingkit... yah...
Kingkit yang harus diakhiri. Dia terlalu lugu untuk menjadi korban persembahan di altar pemujaan cintaku yang kelabu. Dia terlalu baik untuk menjadi budak pelampiasan asaku yang hampa.
Maafkan aku...
Aku sayang kamu tapi aku belum bisa mencintaimu.

(BERSAMBUNG)

BAYANGAN TAK KAN DAPAT DIGENGGAM

(Part 1)

Kisah lama terlalu sayang ‘tuk dibuang.
Meski trasa sakit dan menyiksa hati
Terlalu sayang,… dan terlalu indah ‘tuk ditanggalkan
Bak sebuah sugesti… seakan memenuhi kepala.
Menilai segala tanpa mampu menggunakan logika yang benar.

Meski tlah hadir kilau baru dan menusuk tepat di jantung sukma
Namun tetap tak mampu memendar indah ke seluruh jiwa.
Tak kan pernah kilau kan bersinar utuh,
Selama bayangan kelabu belum juga sirna.
Tak kan pernah bayangan kelabu lenyap,
Selama obyek tak jua bergeser dari koordinat awalnya.
(wiek’s Agst 2003)


Jarum merah spedometer sepeda motor menunjuk pada angka kecepatan yang stabil pada skala 40 km/jam. Yah... memang tidaklah terlalu kencang mengingat itu adalah perjalanan di tengah kota disaat waktu ‘lunch’ tepat bayangan berada di bawah telapak kaki.
Roda sepeda motor tetap berputar dan melaju pasti ke arah utara sambil sesekali meliuk-liuk ke kiri dan kanan mencari-cari sela jalan yang pas tuk bisa dilalui. Semua penghuni jalanan itu juga begitu. Semuanya kelihatan terburu-buru dan tak sabar untuk segera berhenti di tujuan.

Memang masih pantaslah kalau julukan lalu-lintas ter’semrawut’ disandang kota Yogyakarta yang katanya Berhati Nyaman ini.
Yah memang begitulah, kalau tidak cekatan di tengah lalu-lalang sepeda motor yang jumlahnya sudah melebihi ambang batas daya tampung kota Jogja, bisa-bisa malah sport jantung gara-gara suara klakson dan desitan roda-roda kendaraan yang saling terpancing untuk bereaksi dan semakin menambah kegaduhan jalanan saja.

Setelah 30 menitan meliuk-liuk di jalan itu, akhirnya sampai juga di ring road utara. Sambil menunggu lampu trafick light berubah ke warna hijau, pengamen-pengamen kecil tanpa alas kaki begitu telatennya menghampiri mobil-mobil yang terhenti karena lampu merah.
Terlihat beberapa mobil membuka kaca depannya dan muncullah tangan si pengemudi sambil memberikan logam seratus rupiah pada pengamen-pengamen kecil itu.

Terik matahari di luar menyerang dengan keganasan ultravioletnya tetapi keringat dari tubuh tidak bisa keluar juga. Sepertinya ini yang membuat kulit orang di Jogja tambah gosong saja. Panas yang aneh, seperti dipanggang tinggal ditambah sedikit campuran bumbu dapur plus monosodium glutamate untuk menyentuh rasanya… mantaplah sudah. Meski serangan panas aneh itu tak kunjung hilang tapi keringat di tubuh tetap saja tidak bisa keluar.

Lampu hijau sudah menyala. Roda kembali berputar melaju namun tidak secepat tadi. Hanya berkecepatan sekitar 15 km/jam. Tanda akan belok kanan sudah dinyalakan dari tadi, tetapi kendaraan di belakang sepertinya tidak ada yang berminat untuk sedikit mengurangi kecepatannya dan membuka sedikit peluang putaran roda itu untuk bergeser ke kanan.

Uuuhh...
Peluh mulai ada yang menetes.
Sampai juga di depan pamflet besar bertulis PPPG Matematika.

Roda dibelokkan haluan ke arah timur. Masuk terus... sampai pertigaan lalu belok kiri - teruuus - kiri lagi - terus... masuk gang kecil – belok kanan dikit sekitar 10 meter – kiri - dan sampai sudah.

Rumah yang catnya didominasi warna hijau itu seperti biasa, telah tegak berdiri kokoh dan seakan-akan telah siap dengan kedatangannya. Di bagian kiri bagunan ada tangga sempit menuju ke lantai 2. Lantai dimana Nawan memiliki teritorial penuh selama perjanjian lisan satu tahun atas sebuah kotak semen dan bata berukuran 3x3 meter.

Hmm... sepertinya sepi. Rumah besar tampak kosong. Mungkin bapak dan ibu sedang kondangan, bulan Juni sampai Juli kan memang bulannya orang kondangan. Nggak yang nikahan, sunatan, melahirkan, de el el deh. Pokoknya gajian satu bulan ditanggung bisa ludes buat modal ke kondangan.

Anak-anak yang lain juga tidak kelihatan satu pun nongkrong di pos ronda yang seolah sudah berubah fungsi menjadi mabes mereka.

Ah mereka itu. Paling kalau gak lagi molor di kamar masing-masing, yaaa ke rental PS nya Denmas Bei.

Pintu kamar Nawan tertutup tapi tidak dikunci dari luar. Pertanda penghuninya ada di dalam. Atau paling nggak ya tidak pergi jauh dari rumah.

Kingkit masuk tanpa mengetuk pintu dan...

Ternyata...
Tubuh tikus (tinggi dan kurus) itu sedang tiduran asik sambil ngelonin si kucing kesayangannya.

Kegiatan yang paling digemarinya kalau sedang nyantai di kamar.
Katanya sih lebih aman ngelus-elus dan ngeloni tubuh kucing itu dari pada ngelus-elusin orang lain karena bisa-bisa badan kita yang menjadi taruhannya.

Sesaat Nawan terkejut melihat wajah imut Kingkit muncul di sela daun pintunya yang telah terbuka separo. Tapi tetap saja dia tidak bangun dari peraduannya yang semakin menipis dan nyaris sejajar dengan lantai kamarnya. Kingkit berjalan masuk dan langsung melempar tas punggungnya ke kasur tipis itu dan bersandar di dinding di sebelah kasur.

Dari mana Kit?

Tempat Ona . Nggak ke Swakarya nih Mas?

Nanti sorean rencananya, sekarang masih panas. Motorku juga belum datang. Tadi Gay pinjem buat balikin printer di kantor.

Owww...
Jawab Kingkit singkat sambil diiringi gerakan anggukan kepala.
Udah makan Mas?

Udah. Kamu udah ‘pa blom?
Masih sambil ngelus-elus punggung kucing yang makin terlenan saja dibelai-belai. Bagai seorang putri hanyut dalam buaian sang pangeran pujaannya

Belum.
Tadi dari kampus langsung ke tempat Ona.
Kokom sudah datang trus aku kesini aja. Rencananya mo maem sama kamu, tapi kamunya dah maem dulu.
Wajah Kingkit cemberut kecewa namun bernada manja.

Ya udah, beli dulu aja di depan, ntar vertigo-nya kumat lagi.

Anterin ya Maass...

Hmmm... ya ayok, buruan.




Tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah kembali berada di dalam box bata dan semen berukuran 3x3 meter yang terlapis beraneka kolaborasi warna seperti di taman kanak-kanak saja.

Kingkit mencari posisi ternyaman untuk menikmati bungkusan dalam tas plastik hitam kecil yang ditentengnya. Nawan pun tak mau kalah dengan mencari posisi ternyamannya untuk segera menyalakan PCnya.
Sesekali Kingkit menggoyangkan kepalanya sambil menikmati nasi bungkus dari warung Tenda Biru dan mendengarkan House Music yang diputar dari Winamp PC di kamar Nawan.
Makan itu memang enaknya dengan lauk ‘lapar’. Makan apapun pasti terasa enak meskipun hanya dengan ikan asin sepotong kecil dan sambal.

Nawan masih saja asik mengklak-klik foto Gay. Gambarnya kadang jadi merah, kadang jingga, kadang juga kuning...
Bentuk oval, bintang... bintang... besar trus kecil gonta-ganti terus.
Entah mau diapain foto yang memang sudah tak beraturan dari sononya itu. Biarpun dimacem-macemin ya tetap saja foto Gay gak berubah. Paling pol... Gambar aslinya tersamar gradasi warna saja.

Tetep aja jelek Mas.
Bilangin saja sama yang punya, aslinya udah jelek gitu.
Kingkit nyeletuk sambil masih asik makan dan kedua tangannya memisahkan duri yang sepertinya sudah menyatu dengan ikan asinnya, karena saking banyaknya duri di dalam ikan.

Biarin aja, yang penting aku wes melaksanakan tugasku.
Ya itung-itung bantuin temen yang sedang berusaha untuk mensukseskan program asmaranya.

Memangnya kapan mereka mau ketemu?

Mbuh gak ruh... Nggak tau.
Katanya dalam minggu ini Sari mau ke Jogja. Mao ngelamar Gay katanya. Emansipasi ya Kit, cewe’ yang ngelamar cowo’.

Wah... kaya cerita India aja Mas.
Cewe’ nya yang ngelamar cowo’.

Eh Sari dan Mas Gay apa mau bener-bener serius ya?
gebetannya Mas Gay banyak kan.

Hu`uh... gitu sih katanya

Sari yang keberapa ya?!

Akehh Ndukk... banyak banget gebetannya Gay, kurang pantes kalau si Ramli jadi raja Chating... cocoknya si Gay itu raja Chatingnya.

Mas Gay udah dapat pic nya Sari?

Jelas sudah. Cuaakeep dan fungkehh katanya. Kaya Avril Lavigne yang lagi main skater itu tu. Tempo ari kan Sari kirim satu slot kretek dan foto aslinya ke Gay.

Jadi Mas Nawan sudah liat juga?

Sudah dong. Emang cakep kok, leader SPG tuh
.
Wow, pinter juga mas Gay cari gebetan.
Mojang Bandung euy. Pasti ya te o pe
---sambil ngacungin jempol tapi jempol tangan lho !!!---

Katanya sih bukan asli orang Sunda. Numpang kuliah aja di sana.

Oooo...

Gelasnya masih kotor Kit, langsung minum dari plastiknya aja ya. Udah agak dingin kan jeruknya.

(BERSAMBUNG!!!)